Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, mengatakan bahwa saat ini telah banyak serangan yang dilakukan aktivis peretas (hacktivist), terhadap situs resmi pemerintah. Kemenkominfo pun memperingatkan semua pihak untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya keamanan nasional akibat serangan dalam dunia maya.
"Saya menyayangkan sikap-sikap yang terlalu mengabaikan bahaya-bahaya serangan yang terjadi di dunia maya. Ini sudah merupakan masalah serius di seluruh dunia," kata Tifatul, dalam keterangan pers yang diterima.
Tifatul kemudian mencontohkan sejumlah serangan terhadap situs resmi yang ada di dunia. Misalnya, serangan terhadap situs resmi pemerintah Esthonia, Iran, Swiss, Malaysia, dan lembaga-lembaga seperti Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA), media Fox News, dan Google.
"Bahkan di dalam negeri, lembaga pemerintah situsnya pernah diserang. Seperti, Mabes Polri, Lemhanas, TNI, Pertamina, tidak luput pula situs Kemenkominfo," tutur Tifatul.
Tifatul kemudian menjelaskan, berdasarkan penelusuran Kemenkominfo, masih banyak lembaga dan kementerian negara yang belum membangun sistem keamanan komputer yang baik. Bahkan, cenderung mengabaikan aspek-aspek keamanan sistem informasi.
Padahal, menurut Tifatul, serangan para peretas dapat berskala luas tanpa batas. Lemahnya keamanan bisa mengakibatkan lumpuhnya sistem teknologi-informasi milik pemerintah dan lembaga negara. "Masa ada situs lembaga yang passwordnya adalah 123. Ditempel pula di atas meja," ujar Tifatul.
Selengkapnya >>>
Banyak Instansi Abaikan Serangan Hacker
Kelompok Hacker Ajak Pemboikotan PayPal
Anonymous, kelompok hacker yang mendukung situs peniup peluit Wikileaks, mem-posting pernyataan resmi ajakan untuk memboikot situs layanan transfer dan pembayaran online, PayPal. Pernyataan resmi itu dibuat sebagai protes kepada PayPal, yang dianggap tidak adil karena menolak aksi donasi kepada Wikileaks melalui PayPal.
Bersama kelompok hacker lain, Lulzsec, Anonymous mem-posting ajakan boikot PayPal ini di sebuah situs text-sharing, Pastebin. Selain menolak digunakan untuk donasi Wikileaks, PayPal juga dianggap membantu aparat keamanan dalam melacak para hacker, yang kemudian ditahan.
"Alasannya sederhana, kami, rakyat, merasa terganggu dengan ketidakadilan tersebut. Kami tidak akan hanya duduk dan membiarkan kami dihancurkan oleh korporasi mana atau pemerintah mana pun," tulis pesan di situs Pastebin itu, seperti dikutip dari CNN.
"Kami tidak takut terhadap kalian, dan kami tak perlu kalian takutkan. Kami bukan teroris, tapi kalian (yang teroris)," lanjut pesan itu.
Sejak awal bulan ini penyelidik federal Amerika Serikat, FBI, setidaknya telah menahan 14 orang atas tuduhan meretas (hacking) situs PayPal. Aksi serangan oleh para hacker memang marak dilakukan setelah PayPal menolak donasi yang dikumpulkan Wikileaks.
Dalam pesan tersebut, FBI juga dikritik karena menahan orang-orang, hanya karena melakukan "operasi cyber modern yang etis". Menurut pesan itu, tidak adil menahan orang yang melakukan peretasan atau hacking atas dasar protes. Karena, aksi hack itu tidak dilakukan untuk mengambil keuntungan.
Aksi boikot ini kemudian mengajak orang-orang untuk menutup akun PayPal mereka. Anonymous dan Lulzsec juga meminta orang-orang untuk menyebar ajakan boikot PayPal ini di jejaring sosial, seperti Twitter.
Namun, hingga saat ini belum terlihat dampak dari ajakan para hacktivist (aktivis hacker) tersebut. "Kami tidak melihat ada perubahan dalam operasional kami," ucap juru bicara PayPal dalam email kepada CNN, kemarin.
Selengkapnya >>>
Waspadai Serangan Hacker Anonymous ke Indonesia
Serangan cyber yang melanda Malaysia beberapa waktu lalu memaksa Indonesia untuk pasang kuda-kuda. Ancaman serupa dikhawatirkan terjadi di Tanah Air oleh grup hacker yang menamakan diri sebagai Anonymous.
Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team On Internet Infrastructure (ID-SIRTII), M. Salahuddien pun mengaku bahwa pihaknya telah mengeluarkan imbauan kepada para penyelanggara jasa internet (ISP) agar waspada.
"Melihat apa yang terjadi di Malaysia jadi kita sudah ingatkan kepada para penyelenggara (ISP-red) agar waspada dengan meningkatkan keamanan," tukas pria yang biasa disapa Didin Pataka ini.
Menurutnya, beberapa waktu sebelum Anonymous menyerbu Malaysia, Negeri jiran itu sempat mendapat kiriman spam alias email sampah dalam jumlah besar.
"Jadi trennya itu setelah serbuan spam, normal sebentar, baru serangan dilancarkan," tukas Didin.
Program jahat (malware) yang digunakan Anonymous juga diyakini tidak dibuat oleh grup hacker tersebut. Namun cuma dimodifikasi dari sumber yang sudah ada.
Sebelumnya, puluhan website milik pemerintah Malaysia dihajar dalam gelombang serangan cyber oleh hacker. Setidaknya 51 website menjadi target dan gangguan terjadi pada 41 website yang disasar.
Kejadian yang menyasar situs berakhiran .gov.my itu diumumkan langsung oleh otoritas Malaysian Communications and Multimedia Commission (MCMC).
Diduga kuat pelaku serangan adalah grup hacker Anonymous. Terlebih sebelumnya ada peringatan dari kelompok hacker yang sudah cukup tenar ini untuk menyerang website pemerintah setempat.
Anonymous mengancam akan menyerang karena tidak setuju dengan kebijakan sensor internet Malaysia. Sebelumnya, kelompok ini juga menyabotase beberapa website di Turki terkait alasan serupa. Selengkapnya >>>
Menyikapi Situs yang Diobrak-abrik Hacker
Sebenarnya yang perlu dilakukan cukup fokus terhadap apa yang dihadapi dan mencari solusi sesuai tahapan yang benar. Kita tidak perlu sesali bila situs kena hack, justru itu menjadi feed-back bagi kita bahwa situs kita belum terlindungi dengan benar dan perlu ada pembenahan, perlu ada pembelajaran.
Lalu pertanyaan berikut adalah mengapa situs D,E & F yang kena incar bukan X,Y & Z?
Di luar dugaan kemungkinan adanya niatan dari pihak tertentu (non teknis) salah satu jawaban paling logis dalam dunia hacking adalah apabila suatu metoda berhasil membobol suatu situs maka cara yang termudah untuk kembali sukses membobol situs lain pasti dengan mencari situs yang menggunakan cara yang sama seperti yang berhasil dibobol sebelumnya tersebut, betul bukan?
Hal itu karena tantangan (baca: kebanggaan) membobol situs pemerintah bukanlah kepada "seberapa sulit" bisa melakukan penerobosan melainkan "seberapa banyak" yang berhasil dibobol.
Ironisnya kenyataan yang ada di lapangan justru sangat membuka peluang untuk itu karena walau proyek-proyek pengadaan situs menghabiskan biaya yang tidak sedikit tapi ternyata situs yang terpasang sering kali sangat rentan atau misal menggunakan framework dari sumber yang sama dan banyak di internet.
Dengan demikian pasti memiliki kerentanan yang sama dan lebih parahnya lagi sangat umum terjadi pada situs pemerintah bahwa kurangnya kesadaran untuk memelihara situs (melakukan patching, upgrade), ini yang lazim terjadi walau tentu tidak mengeneralisir bahwa semua pengelola situs pemerintah seperti ini.
Hal lain tapi tidak dipungkiri bahwa maraknya pembobolan ini sangat mungkin dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menjadikan "musibah massal" ini sebagai alasan mendapat proyek perbaikan situs, jadi tetap mungkin saja (walau tidak bermaksud menuduh) suatu situs dibobol oleh orang dalam sendiri.
Adapun pembuktian pencarian pelaku pembobol apakah itu dilakukan orang dalam atau luar sepenuhnya menjadi tugas kepolisian yang tentu mungkin bisa terlacak dengan rekam jejak, log, analisa alur akses, pemeriksaan setting firewall (bila ada) dan sebagainya. Namun itu semua secara Telematika tidak terlalu berarti karena pada akhirnya hanya upaya pencari pelakunya. Ketemu atau tidak ketemu pelakunya toh situsnya sudah "terkapar" dan perlu dipulihkan.
Yang perlu dilakukan pengelola situs adalah selain membantu pihak kepolisian dengan memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan (guna pelacakan pembobol) pengelola situs harus segera melakukan perbaikan situs agar dapat kembali melayani masyarakat.
Tanpa bermaksud menganggap remeh situs yang dimiliki pemerintah tapi pada umumnya isinya (walau dinamik) sekedar informasi elektronik mengenai lembaga / institusi / departemen yang bersangkutan dan belum sampai ke data penting dan hal lain yang kelak mengganggu operasional dan merugikan Negara.
Sehingga untuk pemulihan situs dengan karakter seperti ini bukanlah hal yang sulit dilakukan (bagi yang paham dan berpengalaman), tidak butuh berhari-hari dan tidak akan mengeluarkan dana banyak. Salah satu contoh logis, sejauh apapun yang bisa dilakukan si hacker namun secara fisik aksesibilitas terhadap server tentu 100% ada pada kuasa pengelola dan begitu pula super user password (atau admin password).
Itu sudah cukup menjadi kunci sukses utama dalam pemulihan. Misal ternyata bahkan akses ke Super User itupun telah diambil alih si hacker maka pengelola dapat mengatasi dengan mengganti harddisk dengan yang lain dan 100% pengaruh si hacker sudah musnah dari server tersebut. Tidak rumit bukan?
Formulasi Langkah 5 R
Selanjutnya pihak pengelola cukup melakukan langkah yang saya formulasikan dengan istilahkan 5R --agar mudah diingat-- yaitu Recovery, Rebuild, Restore, Resolve dan Retain sebagai berikut:
Recovery
Upaya pengambilan data bergerak yang mungkin ada dari sejak terakhir backup dilakukan termasuk diantaranya semua file yang bersifat log atau hal yang bisa membantu yang berwajib untuk melakukan pelacakan pelaku. Anggap pekerjaan ini membutuhkan 2 jam.
Rebuild
Ini adalah upaya pembangunan kembali struktur sistem bisa sekedar pada tingkat aplikasi web yang mungkin hanya beberapa menit saja. Misal keadaan yang terjadi sangat parah sehingga tahap ini harus dari tahap instalasi sistem operasi maka baik pada Linux atau Windows server tahap instalasi dan setting bisa dilakukan (secara tidak terburu-buru) diprakirakan menghabiskan waktu sekitar 2 jam.
Kemudian dilanjutkan dengan instalasi piranti lunak atau tools yang biasa digunakan, waktunya tergantung dari jumlah piranti yang diperlukan untuk direinstalasi. Dalam melakukan ini skala prioritas sangat berguna yakni utamakan yang penting dan sangat diperlukan segera ada dan selebihnya bisa dilakukan setelah tahapan 5R ini selesai.
Restore
Ini adalah pengembalian database dari file backup. Tentu keberhasilan ini tergantung dari kerajinan pengelola melakukan backup baik full-backup (Differential) maupun update-backup (Incremental). Apabila ternyata pengelola tidak memiliki backup maka saya pribadi lebih menganjurkan agar pengelola tersebut diberi sanksi yaitu diganti oleh pihak lain.
Mungkin hal itu terlihat sangat ekstrim tapi patut diketahui bahwa kelalaian melakukan backup adalah suatu hal yang tidak boleh ditolerir dengan alasan apapun dan menjadi tugas utama pengelola situs.
Dengan analogi sopir maka dia tidak boleh memarkir kendaraan pada lokasi yang retan kecelakaan atau kehilangan bukan? Dapat dikatakan anggaplah pengelola situs (server admin / db admin / web admin / webmaster dan segala posisi yang terkait dengan pekerjaan tersebut) utamanya digaji hanya untuk backup data dan selebihnya itu sekedar tugas tambahan J. Yang ingin ditekankan adalah apalah arti kerja berbulan-bulan apabila tidak dapat menyimpan pekerjaannya tersebut secara baik.
Tentu disini penting juga langkah rutin latihan restore, sebagai bagian dari DRP (Disaster Recovery Plan) bahwa data yang dibackup harus dipastikan dapat dipulihkan (restorable). Durasi pekerjaan ini tergantung dari besarnya backup yang dimiliki dan jenis restore yang dilakukan.
Resolve
Menuntaskan tahapan pemulihan dengan melakukan pengujian dan pemastian bahwa segalanya telah kembali normal (atau lebih baik dari kondisi sebelumnya) atau setidaknya pemulihan telah sampai pada tingkat yang dapat dipertanggungjawabkan atau diterima oleh pimpinan, lalu dipastikan sistem pelindung telah terpasang dan diaktifkan, patch yang diperlukan telah dipasang. Bila semua dinyatakan "SIAP" maka layanan ini bisa segera dibuka kembali.
Pada tahap ini sangat diperlukan adanya pencatatan mengenai apa yang dipasang, ditingkatkan, perbedaan dengan setting terdahulu. Sehingga apabila terjadi penyerangan berikut maka pengelola tidak perlu melakukan fall-back (atau kembali ke sistem sebelum tahap 5R) melainkan cukup mengulang tahapan 5R dengan benar, mungkin saja ada langkah yang terlupa atau ada langkah mendetil yang terlewati.
Retain
Secara parallel (karena situs telah dibuka kembali) dilakukan pengujian terhadap situs untuk dipastikan bahwa setidaknya situs tidak akan rubuh dengan modus operandi yang sama dan juga diuji dengan cara lainnya.
Tahap 5R ini bukan jaminan bahwa sistem akan lebih kuat karena dalam dunia ICT tidak ada istilah lebih kuat. Yang perlu diutamakan bukan sekedar keamanan (Secure) tetapi juga kecepatan (Speed), stabil (Stable) dan lancar (Smooth) keempat ini bisa diingat dengan istilah 4S (lagi-lagi ini bukan istilah baku namun agar mudah mengingatnya) dan perlu disadari dibalik sistem ICT tersebut adalah manusia yang mungkin lalai melakukan semua tahapan tersebut secara mendetil dan benar walau sudah diterapkan SOP (Standard Operating Procedure).
Sehingga control berupa check-recheck akan sangat membantu. Tahapan 5R ini setidaknya dapat memberikan panduan kepada pengelola situs untuk tidak panik lalu malah melakukan banyak langkah yang tidak perlu dan justru lupa pada skala prioritas manfaat dan kepentingan situs tersebut.
Semoga informasi ini bermanfaat untuk kita semua dan membuat liat lebih sering belajar dalam melakukan trouble shooting yang baik, dan pesan ini untuk kita semua termasuk untuk diri saya sendiri.
*Penulis: Abimanyu Wachdjoewidajat merupakan akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah serta praktisi telematika. Ia bisa dihubungi melalui blog http://awam.multiply.com. Selengkapnya >>>
Hacker VS Cracker
can bend it, not realising that they risk de-railing the whole train
(Mike Jones: London interview).
Untuk mempelajari masalah keamanan, ada baiknya juga mempelajari
aspek dari pelaku yang terlibat dalam masalah keamanan ini, yaitu para
hackers and crackers. Buku ini tidak bermaksud untuk membahas secara
terperinci masalah non-teknis (misalnya sosial) dari hackers akan tetapi
sekedar memberikan ulasan singkat.
Istilah hackers sendiri masih belum baku karena bagi sebagian orang
hackers mempunyai konotasi positif, sedangkan bagi sebagian lain
memiliki konotasi negatif. Bagi kelompok yang pertama (old school), untuk
pelaku yang jahat biasanya disebut crackers. Batas antara hacker dan
cracker sangat tipis. Batasan ini ditentukan oleh etika. moral, dan integritas
dari pelaku sendiri. Untuk selanjutnya dalam buku ini kami akan
menggunakan kata hacker sebagai generalisir dari hacker dan cracker,
kecuali bila diindikasikan secara eksplisit.
Paul Taylor dalam disertasi PhDnya [47] mengungkapkan adanya tiga
kelompok, yaitu Computer Underground (CU), Computer Security Industry (CSI), dan kelompok akademis. Perbedaan antar kelompok ini kadangkadang
tidak tegas.
Untuk sistem yang berdomisili di Indonesia secara fisik (physical) maupun
lojik (logical) ancaman keamanan dapat datang dari berbagai pihak.
Berdasarkan sumbernya, acaman dapat dikategorikan yang berasal dari luar
negeri dan yang berasal dari dalam negeri. Acaman yang berasal dari luar
negeri contohnya adalah hackers Portugal yang mengobrak-abrik beberapa
web site milik pemerintah Indonesia.
Berdasarkan motif dari para perusak, ada yang berbasis politik, eknomi, dan
ada juga yang hanya ingin mencari ketenaran. Masalah politik nampaknya
sering menjadi alasan untuk menyerang sebuah sistem (baik di dalam
maupun di luar negeri). Beberapa contoh dari serangan yang menggunakan
alasan politik antara lain:
• Serangan dari hackers Portugal yang mengubah isi beberapa web site
milik pemerintah Indonesia dikarenakan hackers tersebut tidak setuju
dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia di Timor Timur.
Selain mengubah isi web site, mereka juga mencoba merusak sistem
yang ada dengan menghapus seluruh disk (jika bisa).
• Serangan dari hackers Cina dan Taiwan terhadap beberapa web site
Indonesia atas kerusuhan di Jakarta (Mei 1998) yang menyebabkan etnis
Cina di Indonesia mendapat perlakukan yang tidak adil. Hackers ini
mengubah beberapa web site Indonesia untuk menyatakan ketidaksukaan
mereka atas apa yang telah terjadi.
• Beberapa hackers di Amerika menyatakan akan merusak sistem milik
pemerintah Iraq ketika terjeadi ketegangan politik antara Amerika dan
Irak. Selengkapnya >>>
Hacker Pembobol Situs Polri Belum Tentu Teroris
Peretasan atau pembobolan situs resmi Polri belum tentu dilakukan oleh teroris atau pihak yang menyimpan dendam terhadap polisi. "Belum tentu serangan ini diarahkan kepada situs polri, bisa saja random," ujar pakar teknologi informatika Ruby Alamsyah.
Situs Kepolisian Republik Indonesia yang beralamat polri.go.id, diduga telah diretas (hacked). Peretas mengajak pejuang Islam untuk bangkit. Ketika situs Polri dibuka, situs akan otomatis mengarahkan ke sebuah alamat http://www.polri.go.id/backend/index.html.
Namun dalam pantauan www.police-line.tk situs Polri tersebut tidak bisa diakses sama sekali alias blank. Hanya saja, link itu masih bisa diakses dengan cara mengetik link tersebut langsung.
Di alamat tersebut, barulah terlihat bahwa situs lembaga penegak hukum tersebut telah diretas. Di situ hanya ada latar berwarna hitam dengan sebuah foto dua orang berbaju khas kearab-araban mengibarkan bendera. Ada juga tulisan sebuah kalimat "Tiada tuhan kecuali Allah - Muhammad hamba dan utusan Allah". Selain itu ada juga tulisan "Bangkitlah singa-singa Islam!" yang terletak di bawahnya.
Menurut Ruby, dalam kasus pembobolan situs resmi Polri tersebut, bisa saja dilakukan oleh siapapun. Isi dan seruan yang tampil dalam layar hasil yang diubah hacker tersebut tidak mencerminkan pihak penyerangan terhadap situs penegak hukum itu.
"Mungkin ini diarahkan ke kelompok tertentu, mungkin ini akan banyak yang mengira dilakukan oleh pihak yang dendam terhadap polisi. Tapi dalam cyber crime semua ada jejaknya. Konten saja belum bisa mencerminkan si pelaku penyerangan," tegas Ruby.
Untuk itu Ruby mengimbau agar menungu hasil penyelidikan dan pembuktian jejak hacker tersebut untuk menentukan siapa dan apa motif pelaku pembobolan situs Polri tersebut.
Selengkapnya >>>
HAH! Situs Polri di-HACK???
Ketika situs Polri dibuka, situs akan otomatis mengarahkan ke sebuah alamat http://www.polri.go.id/backend/index.html. Namun dalam pantauan Police-Line, Senin (16/5/2011), situs Polri tersebut tidak bisa diakses sama sekali alias blank. Hanya saja, link itu masih bisa diakses dengan cara mengetik link tersebut langsung.
Di alamat tersebut, barulah terlihat bahwa situs lembaga penegak hukum tersebut telah diretas. Di situ hanya ada latar berwarna hitam dengan sebuah foto dua orang berbaju khas kearab-araban mengibarkan bendera. Ada juga tulisan sebuah kalimat "Tiada tuhan kecuali Allah - Muhammad hamba dan utusan Allah". Selain itu ada juga tulisan "Bangkitlah singa-singa Islam!" yang terletak di bawahnya.
Selanjutnya di bawah foto dan tulisan terdapat link video yang telah dipublikasi di situs Youtube dengan judul 'Doa Hamba Allah yang Prihatin dengan Kondisi Umat Islam'.
Doa tersebut diambil dari doa Syaikh Muhammad Al-Mohaisany, Imam Masjidil Haram, Mekkah. Di bawah link video tersebut terdapat arti doa tersebut dalam bahasa Indonesia.
Selengkapnya >>>
Facebook Mesin Spionase AS
Pendiri situs pembocor rahasia WikiLeaks, Julian Assange, ternyata tak mempercayai jejaring sosial. Dia bahkan mengatakan bahwa Facebook dan Twitter bukan alat yang bisa berguna untuk melangsungkan 'revolusi politik'.
Seperti dilansir situs Silicon Alley Insider, dalam sebuah wawancaranya dengan situs RT, Assange tegas-tegas mengatakan Facebook adalah "mesin mata-mata menakutkan yang pernah ditemukan".
"Facebook adalah database tentang orang yang paling komprehensif, lengkap dengan rekan-rekan mereka, nama-nama mereka, lokasi-lokasi mereka, serta komunikasi terhadap masing-masing mereka," ujar Assange.
Semuanya, Assange menambahkan, bisa diakses oleh agen intelijen AS. Sebab, kata Assange lagi, Facebook, Google, Yahoo, semua organisasi papan atas itu, membuat situs mereka dengan antarmuka yang bisa digunakan oleh intelijen AS.
"Sekarang, apakah berarti Facebook memang dijalankan oleh intelijen AS? Tidak, tidak seperti itu, Tapi sederhananya, intelijen AS mampu melakukan tekanan politik maupun hukum kepada mereka," kata Assange.
Jadi, setiap kali kita menambahkan seseorang ke dalam daftar teman, kata Assange, kita mempermudah pekerjaan intelijen AS dalam membangun database yang lengkap, dengan gratis.
"Sangat mahal untuk mereka (intelijen AS) untuk merekam data setiap orang satu per satu, jadi mereka membuat agar proses ini dilakukan secara otomatis.
Selengkapnya >>>
Hacker Jual Murah Situs Pemerintah AS
Ternyata, di kalangan para peretas (hacker), situs-situs pemerintahan AS dihargai begitu murah. Menurut laporan terbaru dari firma keamanan komputer Imperva, kontrol terhadap situs-situs pemerintahan AS diperjualbelikan mulai dari harga US$33-US$499 (Rp 300 ribu sampai Rp 4,5 juta).
Seperti dikutip dari situs ComputerWorld, pada sebuah forum 'bawah tanah' yang merupakan pasar gelap di kalangan hacker, Imperva menemukan adanya jual beli beberapa situs web pemerintah AS, termasuk situs milik kalangan militer.
Di antaranya adalah situs Pharmacoeconomic Center milik Departemen Pertahanan AS yang menganalisa penggunaan obat-obatan bagi militer, dan veteran AS. Lalu ada situs negara bagian Utah AS dan Michigan, situs pemerintahan Italia, maupun beberapa situs universitas di AS.
Tak hanya menjual situs pemerintah, para peretas juga mengobral beberapa informasi rahasia yang mereka curi dari berbagai situs hanya seharga US$20 (180 ribu) untuk 1000 informasi rahasia tadi.
Biasanya informasi ini diperlukan para spammer atau penipu online untuk melancarkan aksi-aksinya. Sejauh ini, Bar-Yosef mengatakan ada sekitar 16 situs pemerintahan dan 300 ribu data rahasia orang yang diperjualbelikan di forum itu.
Hacker Jual Murah Situs Pemerintah AS
Situs negara bagian, departemen pertahanan, dan militer AS dijual murah oleh para peretas.
SENIN, 24 JANUARI 2011, 12:24 WIB Indra Darmawan
Hacker menjual murah kontrol terhadap situs-situs pemerintahan AS (identityfraudnews.com)
BERITA TERKAIT
China, Surga Bagi Para Hacker
Intelijen AS Interogasi Hacker Wikileaks
Situs ITS Punya Celah
Hacker Pembobol 114.000 Data iPad Dicokok FBI
Hacker Penjebol Email Palin Dibui 20 Tahun
Ternyata, di kalangan para peretas (hacker), situs-situs pemerintahan AS dihargai begitu murah.
Menurut laporan terbaru dari firma keamanan komputer Imperva, kontrol terhadap situs-situs pemerintahan AS diperjualbelikan mulai dari harga US$33-US$499 (Rp 300 ribu sampai Rp 4,5 juta).
Seperti dikutip dari situs ComputerWorld, pada sebuah forum 'bawah tanah' yang merupakan pasar gelap di kalangan hacker, Imperva menemukan adanya jual beli beberapa situs web pemerintah AS, termasuk situs milik kalangan militer.
"Anda bisa membeli akses administrator situs-situs tersebut dengan mudah," ujar Noa Bar-Yosef, Senior Security Strategis Imperva. Padahal, semua itu adalah situs penting.
Di antaranya adalah situs Pharmacoeconomic Center milik Departemen Pertahanan AS yang menganalisa penggunaan obat-obatan bagi militer, dan veteran AS. Lalu ada situs negara bagian Utah AS dan Michigan, situs pemerintahan Italia, maupun beberapa situs universitas di AS.
Tak hanya menjual situs pemerintah, para peretas juga mengobral beberapa informasi rahasia yang mereka curi dari berbagai situs hanya seharga US$20 (180 ribu) untuk 1000 informasi rahasia tadi.
Biasanya informasi ini diperlukan para spammer atau penipu online untuk melancarkan aksi-aksinya. Sejauh ini, Bar-Yosef mengatakan ada sekitar 16 situs pemerintahan dan 300 ribu data rahasia orang yang diperjualbelikan di forum itu.
Bar-Yosef memperkirakan, hacker mampu mencuri data rahasia tersebut menggunakan serangan yang disebut SQL Injection. Biasanya laman web yang menyediakan boks pencarian atau form pengisian, bisa diserang, karena boks tersebut akan berhubungan langsung dengan database.
Menurutnya, tidak perlu keahlian teknis yang mendalam untuk melakukan hal itu. Bahkan hacker pemula yang biasa disebut dengan istilah 'script kiddies', bisa melakukan serangan jenis ini.
Namun, serangan SQL Injection bisa berakibat fatal. Misalnya pada kasus jebolnya sistem pembayaran milik perusahaan Heartland dan 7-Eleven oleh peretas bernama Albert Gonzalez.
Selengkapnya >>>
Hacker Geohot Berdamai dengan Sony
Masih ingat penjebol konsol Sony PS3? Ya, dialah Goerge Hotz alias 'Geohot'. Perseteruan lawas antara Hotz dengan Sony, akhirnya berakhir damai. Seperti dilansir dari PC Magazine, Sony dan Geohot sepakat mengakhiri kasus mereka yang sempat naik ke meja hijau. Keduanya bahkan membuat pernyataan bersama ke media. Surat persetujuan ini diteken kedua belah pihak.
"Motivasi awal kami melakukan litigasi ini adalah untuk melindungi properti intelektual dan konsumen kami. Kami percaya perdamaian akan menjadi keputusan permanen demi mencapai tujuan ini," ujar Riley Russel, General Counsel Sony Computer Electronics America (SCEA), dalam pernyataan tertulisnya.
Sementara Hotz mengaku lega kasus hukumnya telah terselesaikan. "Saya tidak pernah bermaksud membuat masalah bagi pengguna atau membuat pembajakan menjadi semakin mudah," kata dia.
Sebelum ini, SCE mendaftarkan gugatannya kepada Hotz, bersama Hector Martin Cantero, Sven Peter, dan beberapa orang lainnya, yang dicurigai bagian dari kelompok hacker FailOverFlow. Sony gerah terhadap kelompok ini karena mereka mempublikasikan root key dari PS 3, sehingga orang-orang bisa memiliki root access terhadap konsol PS3 tanpa memerlukan media eksternal.
SCEA menggugat Hotz dengan pasal pelanggaran, dan penipuan komputer, Digital Millenium Copyright, hukum pelanggaran hak cipta berlaku di California, pelanggaran kontrak, dan beberapa pelanggaran lainnya.
Hingga kini, langkah Sony mempermasalahkan hacking PS3 ke pengadilan sendiri masih mengalami protes dan boykot dari kelompok hacker Anonymous.Anonymous, kelompok hacker yang pernah melakukan advokasi kepada pendiri WikiLeaks Julian Assange dan perjuangan oposisi Mesir lewat internet.
Selengkapnya >>>
Software Pengaman untuk Twitter
Popularitas Twitter ataupun Facebook yang melejit belakangan ini tak lepas dari perhatian dan ancaman para hacker. Hal ini merangsang inisiatif seorang peneliti dari Israeli Security untuk menciptakan sejenis software update pengamanan (security vulnerability) untuk pengguna Twitter.
Aviv Raff, peneliti tersebut, berencana untuk mempublikasikan software pengamanan Twitter yang diupdate setiap hari selama Juli mendatang. Karena, disinyalirnya pada bulan tersebut para hacker akan menyerang Twitter lebih gencar.
“Nantinya, akan saya publikasikan segala update software pengaman terbaru Twitter melalui website twitpwn.com,” kata Raff dalam blognya, seperti VIVAnews kutip dari InformationWeek
“Ketika para hacker mulai menyarangkan varian-varian worm baru ke Twitter melalui celah tertentu, setidak-tidaknya kurang dari 24 jam saya akan publikasikan obatnya,” kata Raff, yang menganggap update harian tersebut sebetulnya sudah lebih dari cukup.
Sekadar diketahui, Raff merupakan peserta event inisiatif bertajuk “Month of Browser Bugs” pada Juli tiga tahun silam. Event tersebut dimaksudkan untuk merangsang perhatian publik terhadap ancaman pada browser Internet. Juli tahun ini, ia berambisi untuk memperlakukan hal yang sama pada Twitter melalui “Month of Twitter Bugs.”
Dalam posting blog sebelumnya, Raff memaparkan masalah pengamanan Twitter yang paling signifikan terletak pada API (application programming interface)-nya, yang sangat berpotensi menjadi wadah worm-worm baru. Mei silam, ia baru saja menciptakan sebuah kode untuk membendung serangan pada website twitpic.com, yang menggunakan Twitter API.
Tak hanya itu, kekhawatiran Raff dilatarbelakangi bertambah terusnya masalah keamanan yang dirundung Twitter. April lalu, diketahui worm Twitter yang dibuat oleh bocah 17 tahun telah 'mematikan' 190 akun dan menghasilkan sekitar 10.000 tweet spam.
Lebih ironis, Maret lalu, sekitar 750 akun Twitter di-hack dengan cybersquatting dan digunakan untuk mengirimkan spam.
Ketika itu, reaksi Twitter yang diwakili salah satu pendirinya, Biz Stone mengatakan, pihaknya akan segera mengaudit sekaligus mengembangkan layanan pengamanan tambahan. Namun, sampai saat ini belum ada tindak lanjut apa-apa dari pengelola situs mikroblog yang berusia tiga tahun itu.
Selengkapnya >>>
Cara Meng-Update-kan Status Teman Facebook Kalian
Pernahkah kalian berpikir untuk meng-update-kan status teman Facebook kalian tanpa harus membobol akun Facebook-nya ???
Kejadian serupa begitu marak akhir - akhir ini, dan sebagian pengguna Facebook menganggap itu adalah VIRUS. Sebenarnya itu semua hanya kumpulan script IFRAME dari Link update status Facebook versi mobile http://m.facebook.com/
Berikut adalah source code IFRAME yang saya maksud :
nb : silahkan edit "message.value" di atas sesuai dengan keinginan anda
How to use :
1. Copy paste script di atas ke notepad, trus save as .php atau .html [misal : status.php atau status.html]. Jangan lupa pada 'save as type' pilih "All Files"]
2. Cari hostingan gratisan, sebagai bahan percobaan dan upload file .php/.html tadi ke hostingan
3. Setelah anda upload, coba klik/eksekusi pada browser sendiri link/url dimana posisi file tersebut anda upload.
4. Buka halaman PROFIL Facebook anda, apabila status anda terupdate sendiri setelah anda meng-klik url/link tadi berarti anda berhasil.
Selengkapnya >>>
Terus Didemo, Mesir Blok Facebook dan Twitter
Pemerintah Mesir memblokir akses internet ke Facebook dan Twitter di wilayah mereka. Pasalnya, kedua laman jejaring sosial itu telah menjadi andalan para aktivis untuk mengerahkan massa menentang rezim Presiden Hosni Mubarak secara serentak di penjuru Mesir dalam beberapa hari terakhir.
Demonstrasi anti Mubarak terus berlangsung Rabu waktu setempat, kendati pemerintah sudah melarang massa untuk berkumpul dan berunjuk rasa seperti yang mereka lakukan Selasa lalu.
Menurut stasiun berita MSNBC, pemerintah Mesir mulai memblokir akses ke Facebook dan Twitter pada Rabu, 26 Januari 2011, sehari setelah digelar aksi demonstrasi terbesar di negara itu. Warga kini mulai mengeluhkan sulitnya akses ke Facebook. Keluhan telah disampaikan ke markas Facebook di Amerika Serikat.
“Kami mengetahui laporan adanya gangguan pelayanan, namun kami tidak menemukan adanya perubahan berarti pada lalu lintas jaringan di Mesir,” ujar Andrew Noyes, manajer komunikasi kebijakan publik Facebook.
Menurut laporan dari Herdict.org, sebuah laman yang dikelola oleh Universitas Harvard untuk memantau aksesibilitas internet di seluruh dunia, layanan Twitter di Mesir mengalami gangguan. Laporan ini telah dibenarkan oleh Twitter berdasarkan konfirmasi yang dilansir dari laman PCMag.
“Kami mengkonfirmasikan bahwa Twitter diblokir di Mesir pada pukul 8 pagi hari ini (Rabu, 26 Januari 2011). Pemblokiran berdampak pada Twitter dan berbagai aplikasinya,” ujar Twitter pada akun @twitterglobalpr.
“Kami yakin keterbukaan informasi dan pandangan akan memberikan keuntungan pada masyarakat dan membuat pemerintah lebih baik dalam berhubungan dengan rakyat,” lanjut Twitter lagi.
Dengan lima juta penggunanya, Mesir adalah pengguna jejaring sosial terbesar di antara negara-negara Arab. Menurut kantor berita Associated Press, jejaring sosial adalah alat utama para pengunjuk rasa dalam berkomunikasi dan mengumpulkan massa.
Salah satu grup di Facebook yang mendapatkan banyak pengikut adalah “Kami semua Khaled Said”, merujuk nama seorang pengunjuk rasa yang tewas dipukuli polisi keamanan. Pada Selasa, grup ini telah mendapatkan 90.000 pengikut yang menyatakan protesnya terhadap pemerintah.
Berkat ajakan unjuk rasa yang diposting di dua jejaring sosial ini, ribuan orang turun ke jalan pada Selasa dan terus berlanjut pada Rabu. Enam orang dilaporkan tewas di Kairo dan Suez pada bentrokan antara pengunjuk rasa dengan pasukan keamanan.
Selengkapnya >>>
Warga Liberia Tipu Janda Rp5 M Lewat Facebook
Keberadaan situs jejaring sosial seperti Facebook kini menjadi media paling populer dan digandrungi setiap orang, mulai sekadar mencari teman hingga jodoh. Namun, di sisi lain, Facebook kerap menjadi alat bagi pelaku kejahatan untuk melakukan aksinya, seperti penipuan.
Bahkan, berbagai modus kejahatan melalui Facebook mulai berkembang. Yang tergolong baru yakni penipuan yang mengincar janda-janda melalui situs jejaring sosial.
Seperti yang terjadi pada RN, perempuan pengusaha kaya yang tertipu oleh lelaki berkewarganegaraan Liberia berinisial MRGG (45). Akibatnya, RN tertipu hingga Rp5 miliar.
"Pelaku, MRGG, memang mengincar para perempuan, terutama janda yang memiliki akun Facebook," kata Kepala Satuan Cyber Crime Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, AKBP Hermawan, di Jakarta, Rabu 2 Februari 2011.
Modus yang dilakukan pelaku, menurut dia, awalnya sebatas perkenalan dengan tersangka. Singkat cerita, korban yang merupakan janda itu, kemudian meminta pelaku mengenalkannya dengan seorang pria untuk dijadikan istri.
Untuk lebih meyakinkan korban, tersangka kemudian membuat akun di Facebook dengan nama Josh. Di Facebook itu, tersangka memasang foto-foto lelaki berkulit putih yang bertampang keren dan gagah. Hal itu dilakukan agar korban merasa yakin dan memilih untuk segera berkenalan.
Tidak hanya itu, Hermawan melanjutkan, pelaku juga memasang foto lelaki kulit putih itu bersama anaknya. Upaya itu untuk memperlihatkan seolah-olah pria yang penyayang anak, sehingga korban tertarik.
Setelah itu, korban dan tersangka menjalin komunikasi yang intensif melalui chatting. Tersangka pun mengeluarkan rayuan gombalnya agar mendapatkan semua keinginannya. Bahkan, tersangka berjanji akan menikahi korban, meskipun keduanya tidak pernah bertemu sekali pun.
Tersangka kemudian mengaku membutuhkan uang banyak karena harus masuk ke rumah sakit. Bahkan, pelaku meminta anak kecil untuk berteriak meminta tolong kepada korban, melalui handphone. "Itu dilakukan agar korban semakin percaya," ujar dia.
Karena merasa iba dan mulai mencintai pelaku, korban akhirnya mempercayai dan rela mengeluarkan uang senilai total Rp5 miliar.
"Uang itu ada yang sebagian ditransfer ke bank di Thailand dan ada yang diambil langsung oleh tersangka dengan berpura-pura menjadi kurir 'Josh'," jelas dia.
Karena merasa telah tertipu, korban kemudian melaporkan perbuatan tersangka ke Polda Metro Jaya pada Januari 2011.
Polisi akhirnya berhasil mengamankaan tersangka di rumahnya di Centex, Ciracas, Jakarta Timur pada Rabu 2 Februari 2011. Dari tersangka, polisi menyita uang tunai senilai total Rp260 juta terdiri atas mata uang euro, bath, dolar AS, dan rupiah.
Selain itu, polisi menyita sebuah laptop, iPad, dan sejumlah handphone.
Tersangka, menurut Kasat, telah melakukan aksinya sejak 2006. Hal itu dikuatkan adanya beberapa bukti transfer uang ke rekeningnya sejak 2006.
Polisi menduga, kegiatan penipuan tersangka merupakan sindikat. Hingga kini, polisi masih mengejar satu teman tersangka berinisial Br yang pernah melakukan penipuan modus sama senilai Rp8 juta terhadap wanita janda asal Indonesia. "Teman-temannya ada di Indonesia, Bangkok, dan Malaysia," ujarnya.
Selain itu, pihaknya akan mengeluarkaan red notice bagi daftar pencarian orang (DPO) yang berkewarganegaraan Liberia tersebut. Tersangka yang kini ditahan juga akan dicekal.
Untuk mengantisipasi modus kejahatan itu, Kasat meminta kepada masyarakat pengguna Facebook untuk tidak mudah menambah atau selektif jika ada seseorang yang ingin berteman melalui jejaring sosial itu. "Jangan add orang yang belum dikenal. Bisa jadi itu para pelaku kejahatan yang tengah mengincar korbannya," tuturnya.
Selengkapnya >>>
Internet dan SMS di Mesir Lumpuh Total
Beberapa saat sebelum kelompok oposisi melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran, Mesir dilanda pemblokiran akses layanan internet dan SMS.
Seperti dikutip dari situs Mashable, penyedia layanan internet besar di Mesir yang berbasis di Italia, Sebone, mengatakan bahwa sama sekali tidak ada trafik internet dari Mesir sejak 00.30 pagi waktu Mesir.
Beberapa reporter dan warga Mesir juga melaporkan hal yang sama, bahkan layanan SMS pun juga terblokir. Padahal, kelompok oposisi mengandalkan media sosial untuk mengorganisasikan rencana-rencana mereka.
Misalnya saja, melalui jejaring mikroblog Twitter, akan dapat dijumpai dengan mudah hashtag '#Jan25' yang mengacu pada komunikasi pada saat aksi unjuk rasa 25 Januari lalu.
"Saya curiga blokir internet ini hanya bagian kecil dari upaya pemerintah yang disiapkan untuk menangkal aksi oposisi Jumat ini," kata Ben Wederman, jurnalis CNN yang telah meliput di Mesir melalui tweetnya.
Pemerintah Mesir sendiri sebelumnya telah memblokir layanan Facebook dan Twitter di negaranya, namun langkah itu bisa diakali oleh para oposan dengan menggunakan situs proxy, software dan aplikasi mobile, maupun koneksi aman via Virtual Private Network.
Gerakan oposisi di Mesir sendiri terinspirasi oleh gerakan revolusi di Tunisia yang telah memaksa Presiden Zine El Abidine Ben Ali, yang telah berkuasa selama 23 tahun. Adapun di Mesir, pemerintahan Presiden Hosni Mubarak telah berkuasa selama 31 tahun sejak 1981.
Selengkapnya >>>
Akun Zuckerberg Jebol, Keamanan FB Diperkuat
Kini terbukti jelas betapa lemahnya sistem keamanan jejaring sosial Facebook dari incaran orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Belum lama ini akun Facebook pendirinya Facebook sendiri, Mark Zuckerberg, berhasil dijebol oleh peretas (hacker). Hacker tersebut memposting sebuah pesan unik di status Zuckerberg.
"Biarkan hacking ini dimulai: bila Facebook butuh uang dan tak pergi ke bank, kenapa Facebook tak membiarkan penggunanya berinvestasi di Facebook secara sosial? Kenapa tidak mengubah Facebook menjadi sebuah 'bisnis sosial' seperti yang dilakukan oleh pemenang Nobel Muhammad Yunus? http://bit.ly/fs6rT3 Bagaimana pendapatmu? #hackercup2011"
Tim Facebook sendiri rada telat mengetahui adanya postingan ini, karena 'status palsu' Zuckerberg itu sempat mendapat jempol 'Like' dari 1.803 pengguna Facebook, dan bahkan dikomentari oleh sekitar 500 orang.
Belakangan, postingan tersebut dihilangkan, namun screenshotnya sudah keburu diabadikan oleh situs Techcrunch. Menurut situs Forbes, sepertinya komentar sang hacker ditujukan untuk 'memprotes' investasi Goldman Sachs pada Facebook baru-baru ini.
Sementara hashtag (tanda '#') 'hackercup' menurut situs Computerworld, mengacu pada sebuah kompetisi yang tengah berlangsung untuk menguji layanan Facebook.
Yang jelas, peristiwa ini merupakan penyusupan terhadap akun Facebook kedua di pekan ini, setelah sebelumnya akun Presiden Prancis Nicolas Sarkozy juga bobol.
Selengkapnya >>>
Hacker Terpopuler Sepanjang Masa
Selain pengguna internet biasa, dunia maya juga dipenuhi oleh mereka yang disebut sebagai hacker yang disebut cracker atau black hat hacker. Kegemaran mereka adalah mengeksploitasi sistem komputer dan melakukan apa yang disebut sebagai cybercrime.
Sebagian dari mereka melakukannya demi kesenangan dan memenuhi rasa penasaran semata, sementara sebagian lainnya melakukannya demi mencari keuntungan pribadi. Berikut ini adalah beberapa ‘black hack’ hacker terpopuler di komunitasnya.
Jonathan James
Nama James mendadak beken karena ia merupakan orang pertama yang dijebloskan ke pengadilan gara-gara hacking. Ketika dikurung, ia baru berusia 16 tahun.
Dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV swasta di Amerika Serikat, ia menyebutkan, “Saya hanya bermain dan melihat-lihat,” ucap James, seperti dikutip dari ITSecurity, 16 November 2010. “Yang menarik buat saya adalah tantangan apa yang bisa saya dapatkan kalau berhasil,” ucapnya.
Yang jadi target James adalah organisasi kelas atas. Sebagai contoh, ia memasang backdoor di server Defense Threat Reduction Agency (DTRA). Organisasi itu merupakan salah satu unit di Departemen Pertahanan AS yang bertugas mengurangi ancaman terhadap AS dan sekutunya dari senjata konvensional, senjata khusus, biologis, kimia, hingga nuklir.
Backdoor yang dibuat oleh James memungkinkannya melihat email sensitif dan mengambil data username dan password karyawan.
James juga berhasil masuk ke komputer-komputer NASA dan mencuri software yang secara total bernilai sebesar US$1,7 juta atau sekitar Rp15 miliar.
Menurut Departemen Kehakiman, software yang dicuri adalah software pendukung lingkungan fisik International Space Station yang mengontrol temperatur dan kelembaban di tempat tinggal astronot di ruang angkasa tersebut.
Akibatnya, NASA terpaksa mematikan sistem komputer mereka dan mengalami kerugian hingga sebesar US$41 ribu atau Rp366 juta. Menurut James, ia mendownload kode software itu untuk mendukungnya dalam mempelajari bahasa pemrograman C.
“Kode itu sendiri jelek, tidak pantas dinilai sebesar US$1,7 juta seperti yang diklaim NASA,” ucap James.
Melihat kejahatan yang dilakukan, kalau saja James atau yang dikenal dengan nama c0mrade di dunia maya itu sudah berusia dewasa, ia pasti akan mendapat hukuman setidaknya 10 tahun penjara. Berhubung masih di bawah umur, ia hanya dihukum dilarang menggunakan komputer dan menjadi tahanan rumah selama enam bulan dengan percobaan. Akan tetapi, berhubung ia melanggar hukuman, ia dipenjara selama 6 bulan.
Saat ini, James mengaku sudah insaf, tidak akan melakukan kejahatan serupa dan berencana untuk mendirikan perusahaan keamanan.
Adrian Lamo
Lamo populer karena ia berhasil menyusup ke New York Times dan Microsoft. Dijuluki ‘hacker tunawisma’ karena ia menggunakan komputer di tempat umum seperti kedai kopi dan perpustakaan untuk melancarkan serangannya.
Penyusupan yang dilakukan Lamo umumnya merupakan percobaan penetrasi lewat celah keamanan yang ia temukan, mengeksploitasinya, kemudian mengabarkan perusahaan yang ia susupi seputar celah yang ada. Ia juga sempat menyusup ke Yahoo, Bank of America, Citigroup, dan Cingular.
Jika white hacker disewa perusahaan untuk melakukan uji coba penetrasi, itu merupakan hal yang legal. Akan tetapi, yang dilakukan Lamo tidak. Saat ia masuk ke intranet New York Times, ia melihat informasi pribadi kontributor, termasuk nomor Social Security. Lamo juga masuk ke akun LexisNexis milik surat kabar tersebut dan mencuri informasi rahasia.
Akibatnya, ia dikenai denda sebesar US$65 ribu, tahanan rumah selama 6 bulan dengan masa percobaan dua tahun. Setelah masa hukumannya berakhir, ia bekerja sebagai jurnalis dan pembicara di berbagai event.
Kevin Mitnick
Mitnick dikenal saat ia dicari-cari oleh pihak berwajib. Tindak-tanduknya dipublikasikan besar-besaran di media massa meski kejahatan yang ia lakukan sebenarnya tidak terlalu signifikan.
Meski begitu, Departemen Kehakiman menyatakan bahwa Mitnick merupakan: “The most wanted computer criminal in United States history.” Bahkan eksploitasi yang dilakukannya diangkat ke dalam dua film yakni Freedom Downtime dan Takedwon.
Mitnick punya sejumlah pengalaman hacking sebelum melakukan kejahatan yang membuatnya populer. Ia memulainya dengan menyusup ke jaringan kartu transportasi massa di Los Angeles untuk mendapatkan tumpangan bus gratis.
Setelah itu, ia mencurangi billing telepon. Meski melakukan kejahatan lain, Mitnick akhirnya ditangkap karena menerobos jaringan komputer Digital Equipment Corporation dan mencuri software.
Kelakuan Mitnick makin parah setelah ia melakukan hacking dari seantero negeri selama dua setangah tahun. Dalam artikel bertajuk ‘hacker komputer legendaris yang keluar dari penjara’ di CNN, disebutkan bahwa Mitnick sering masuk ke jaringan komputer, mencuri rahasia perusahaan, mengacaukan jaringan telepon dan masuk ke sistem peringatan dini negara.
Kini Mitnick telah meninggalkan masa lalunya sebagai black hat hacker dan menjadi anggota aktif di komunitas. Sempat dibui selama 5 tahun, dengan 8 bulan di antaranya dikurung di sel terkucil, Mitnick sekarang bekerja sebagai konsultan keamanan komputer, penulis dan juga pembicara.
Selengkapnya >>>
Pendukung Persita Berulah, Web Banten Dihack
Saat Police Line mengunjungi situs pemerintah provinsi Banten, ternyata tampilan situs sudah berubah (deface).
Alih-alih menampilkan informasi seputar provinsi Banten, pelaku hacking menuliskan kekesalan mereka terhadap pendukung sepakbola di Indonesia, khususnya pendukung Persita Tangerang.
“Teman kami, sahabat kami contoh dari satu atau mungkin ratusan korban dari anarkisme pendukung persita. Tetapi bukan hanya persita, tetapi hampir semua supporter sepakbola indonesia melakukan tindakan anarkisme. Apa tindakan anda sebagai pemimpin propinsi ini? Kami juga menyukai sepak bola, dan kami tidak melarang datangnya supporter sebagai penyemangat pemain di lapangan hijau, tetapi bukan anarkisme yang kami harapkan.
Tahukah anda bahwa supporter yang anarkis tersebut masih dibawah umur? Mungkin masih sekolah SD, SMP ataupun SMA? Mereka itu adalah penerus penerus propinsi ini. Mereka memang sedang senang-senangnya untuk menunjukkan bahwa mereka kuat, berani dan hebat. Kalau menunggu mereka sadar bahwa mereka adalah penerus penerus, kapan propinsi ini akan bangkit? Kami mengharapkan anda yang bertindak, dan tidak menunggu.
Kami sangat berharap anda sebagai penguasa bisa memberikan perintah untuk menertibkan supporter yang anarkisme tersebut, atau agar mereka jera hukum saja dengan hukuman yang seberat beratnya agar yang lain jera, dan banten menjadi contoh dari propinsi propinsi lain di Indonesia. Kondisi ini sangat kritis, mau dibawa kemana propinsi ini kalau pemimpinnya tidak peduli dan generasi muda anarkis. Perbantukan aparat kepolisian untuk mengawasi para supporter, kalau perlu perbantukan ABRI jika masih kurang personilnya.
Maaf atas cara kami dalam menuangkan keluhan kami, dan supaya anda tau bahwa propinsi ini memiliki sumber daya manusia yang tidak kalah dengan sumber daya manusia propinsi lainnya.
Untuk Teman kami, Sahabat Kami Dwi, Iksan, Adi dan kawan kawan, semoga cepat sembuh,” demikian tulis peretas situs tersebut.
Di situs tersebut, peretas juga memuat berita seputar keterlibatan supporter persita dalam tawuran dengan mahasiswa STMIK Rahardja saat ratusan pendukung klub sepak bola tersebut meninggalkan stadion, usai pertandingan melawan Persipasi Bekasi, Jumat lalu dan menyebabkan empat orang luka-luka.
Selengkapnya >>>
Virus Stuxnet Hantui Iran dan Indonesia
Worm trojan Stuxnet yang mengincar sistem kontrol industri, SCADA, ternyata paling banyak menyerang komputer di negara Iran.
Seperti dikutip dari situs BusinessWeek, berdasarkan data dari firma keamanan Symantec, hampir 60 persen dari sistem yang terinfeksi worm Stuxnet berada di Iran.
Sementara Indonesia dan India menjadi negara berikutnya yang menjadi tujuan serangan worm ini dengan prosentase komputer terinfeksi 18 persen dan 8 persen.
Stuxnet pertama kali ditemukan pada bulan lalu oleh sebuah perusahaan keamanan asal Belarusia bernama VirusBlokAda, dan menyerang software otomatisasi yang banyak digunakan di bidang industri (pabrik-pabrik), bernama SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition).
Worm ini menyerang melalui USB drive yang terinfeksi. Ia memanfaatkan celah keamanan di Windows dan sertifikat digital yang cukup ternama untuk menjebol data-data rahasia perusahaan dari sistem SCADA dan mengirimnya ke internet.
"Ini adalah bukti bahwa W32.Stuxnet dibuat dan didistribusikan untuk maksud pencurian dokumen infrastruktur kritikal di beberapa organisasi di negara tertentu," kata Vikram, Thakur, dari Symantec, pada blog resmi perusahaannya.
Kendati penyebaran worm ini tidak terlalu masif, tapi diperkirakan antara 15 ribu hingga 20 ribu komputer telah terinfeksi. Symantec berhasil mengarahkan server pusat worm ini ke komputernya, dan dalam tiga hari saja, sebanyak 14 ribu alamat IP berusaha untuk terhubung dengan server pusat worm ini.
Symantec mengaku tak begitu mengerti mengapa Iran, Indonesia, dan India menjadi negara yang paling banyak terimbas. Namun menurut Symantec, siapapun yang membuat worm ini memang mengincar perusahaan-perusahaan yang berada di wilayah tersebut.
Dari tanggal yang tertera pada digital signature yang dimunculkan oleh worm ini, kata Levy, malware ini telah ada sejak Januari lalu. Saat itu, Siemens didesak untuk menarik divisi usahanya di Iran oleh LSM pro-Israel bernama Stop the Bomb. Desakan terhadap Siemens muncul bersamaan dengan peringatan 65 tahun pembebasan kamp Auschwitz.
"Walaupun Iran adalah salah satu negara yang paling terinfeksi, mungkin juga hal itu disebabkan karena negara itu adalah tempat di mana mereka jarang memiliki antivirusnya saat ini," kata Elias Levy, Senior Technical Director, Symantec Security Response, kepada BusinessWeek.
Siemens telah memposting sebuah software gratis yang mampu memindai keberadaan worm ini, dan hingga kini telah diunduh lebih dari 1500 kali.
Selengkapnya >>>
Polisi Paparkan Detail Kasus di Twitter
Greater Manchester Police, salah satu unit kepolisian terbesar di Inggris, memaparkan setiap kasus yang mereka tangani lewat jejaring sosial Twitter.
Diluncurkan menjelang pemangkasan biaya operasional, proyek ini digunakan untuk menegaskan beban tugas yang dihadapi kepolisian dalam periode 24 jam.
Sebagai contoh, dalam 10 jam, polisi telah menerima 1.000 panggilan dari masyarakat. Angka itulah yang akan di-tweet oleh Greater Manchester Police lewat tiga akun Twitter yang mereka siapkan.
“Proyek ini bertujuan untuk menjelaskan pada publik kompleksitas yang dihadapi oleh kepolisian di masa modern,” kata Peter Fahy, Kepala Polisi Greater Manchester, seperti dikutip dari Hexus, 17 Oktober 2010. “Sayangnya, seringkali kerja kepolisian tidak dihargai,” ucapnya.
Polisi, kata Fahy, seringkali dilihat hanya melakukan tugas sederhana, seperti mengejar perampok lalu meringkusnya. “Sebenarnya itu hanya menjadi bagian kecil dari pekerjaan yang harus kami tangani,” ucap Fahy.
Sebagai gambaran, panggilan yang masuk ke polisi sangat luas, mulai dari kecelakaan lalu lintas, perampokan, hacking, sampai kehilangan anak, dan balas dendam.
“Banyak pekerjaan yang kami lakukan terkait dengan masalah sosial dan kesehatan, seperti anak hilang, orang dengan masalah kesehatan mental, dan kekerasan rumah tangga,” ucap Fahy. “Pekerjaan ini tidak mendapat perhatian, padahal itu merupakan bagian besar dari tugas yang kami lakukan," ucapnya.
Tweet dari Greater Manchester Police dapat diikuti di akun @gmp24_1, @gmp24_2, dan @gmp24_3.
Selengkapnya >>>
-
WikiLeaks membuat gempar lewat keberaniannya membocorkan puluhan ribu dokumen rahasia milik Amerika Serikat. Bukan belakangan ini saja, situ...
-
Seorang karyawan Google dikecam karena secara sengaja merilis kode program yang bisa mengeksploitasi celah keamanan yang dimiliki platform W...
-
Isu-isu keamanan pada tahun 2010 dunia maya tampaknya masih terjadi dengan berbagai metode yang lebih halus dan canggih. Pengembangan penget...
-
Komputer adalah salah satu media untuk menjelajahi dunia maya. Dalam komputer adalah beberapa informasi yang bisa kita pelajari, terutama me...
-
Hacker kembali membidik sejumlah situs yang menggunakan platform WordPress. Serangan kali ini mempengaruhi website yang disimpan di berbagai...
-
Dari jajak pendapat yang dilakukan kepada 563 perusahaan di Amerika, 73% mengaku sistemnya pernah di-hacked. Sedangkan 18% lainnya menyataka...
