Mozilla mengungkapkan bahwa mereka akan memasang teknologi yang dapat membantu Firefox menghentikan serangan keamanan berbasis Internet.
Menurut Mozilla, teknologi bernama Content Security Policy (CSP) tersebut merupakan teknologi dengan spesifikasi yang dibuat Mozilla. Tujuannya agar situs dan pengembang aplikasi dapat menentukan konten di situsnya ataupun aplikasinya yang sah.
Teknologi ini juga akan memblokir setiap script ataupun kode perusak yang telah ditambahkan oleh hacker yang berhasil menembus situs ataupun aplikasi yang bersangkutan.
“Ini bukan trik yang dibuat untuk mengatasi satu jenis serangan,” kata Johnathan Nightingale, Manager Front-end Development Team, Mozilla, seperti VIVAnews kutip dari PC Advisor, 9 Oktober 2009. “Ini dapat membantu situs-situs mengatasi masalah corss-site scripting, tetapi lebih dari itu,” ucapnya.
Nightingale menyebutkan, mereka kini memiliki cara untuk mematikan apapun yang dinamis, sehingga apapun konten yang ditambahkan ke situs, jika itu ada di halaman dan mereka mengirimkan sesuatu di bagian header, akan ditutup.
Firefox memperkenankan pengembang aplikasi dan situs untuk memisahkan konten yang sah dan konten yang terlarang. Dengan CSP, Firefox akan mempersilahkan konten sah untuk dijalankan, dan memblokir konten yang berbahaya.
Awal tahun ini, Eric Lawrance, seorang Program Manager di tim Microsoft Internet Explorer menyebutkan bahwa CSP merupakan ide yang bagus dan merupakan pendekatan yang menjanjikan. Meski begitu ia tidak menyebutkan apakah Microsoft akan mendukung teknologi serupa pada browsernya.
Selengkapnya >>>
Forefox Bisa Cegah Serangan di Internet
Sebelum Kontes Hacking Mozilla Perbaiki Firefox
Beberapa hari sebelum kontes hacking terhadap celah keamanan browser internet dimulai, Mozilla buru-buru menambal browser Firefox mereka.
Menurut Mozilla, Firefox 3.6.2 yang dihadirkan memperbaiki celah keamanan seputar dekompresi font yang bisa dieksploitasi untuk mengganggu browser pengguna lalu menjalankan kode tertentu di sistemnya.
Sebelum ini, Mozilla terus berada dalam tekanan untuk memperbaiki bug tersebut setelah ditemukan sebulan sebelumya oleh Evgeny Legerov, seorang peneliti keamanan asal Rusia. Ia menyertakan bug Firefox tersebut pada hacking tool bernama VulnDisco yang dijual sebagai add-on untuk Canvas, perangkat uji coba penetrasi software.
Tim dari Mozilla sendiri diperkirakan baru akan menghadirkan perbaikan tersebut pekan depan. Akan tetapi mereka mempercepat penambalan untuk menghindari kode yang dibuat Legerov disalah gunakan.
Meski demikian, seperti VIVAnews kutip dari PCWorld, 24 Maret 2010, Mozilla menyatakan celah tersebut hanya ada di Firefox 3.6, tidak pada browser sebelumnya.
Saat mengumumkan celah keamanan pada Firefox tersebut, Legerov menyatakan bahwa masalah itu mempengaruhi Firefox yang berjalan di Windows XP dan Vista. Adapun masalahnya disebutkan ada pada cara Mozilla mengimplementasikan standar font berbasis web yang disebut Web Open Font Format.
Perbaikan yang dihadirkan Mozilla tersebut beredar saat hacker sedang bersiap-siap untuk bersaing dalam kontes tiga hari di konferensi keamanan CanSecWest, di Vancouver, Kanada.
Di sana, peserta akan mencoba masuk ke laptop lewat celah keamanan yang harus mereka temukan pada browser Firefox, Internet Explorer, Safari, dan Chrome. Pemenang akan membawa pulang laptop yang berhasil mereka tembus, dan juga uang tunai sebesar 10 ribu dolar AS.
Selengkapnya >>>
Firefox, Browser Favorit Penjahat Cyber
Firefox dan Opera tampaknya menjadi browser favorit para hacker. Informasi ini terungkap dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Purewire, sebuah perusahaan penyedia layanan keamanan internet. Data didapat setelah mereka mengamati toolkit populer yang digunakan oleh hacker untuk menyerang pengguna lewat situs mengandung malware, seperti LuckySploit dan UniquePack.
Sebanyak 46 persen hacker menggunakan Firefox, sementara Opera ada di peringkat kedua dengan 26 persen. Padahal Opera sendiri hanya memiliki pangsa pasar global sekitar 2 persen saja.
“Hacker menggunakan browser yang memiliki pangsa pasar lebih kecil untuk menghindari agar mereka tidak dihack,” kata Rik Ferguson, Senior Security Advisor Trend Micro, seperti VIVAnews kutip dari V3, 24 Agustus 2009. “Meski begitu, bukan berarti Firefox dan Opera lebih aman dibanding Internet Explorer milik Microsoft atau browser lain, tetapi dua browser tersebut memiliki jejak yang lebih sedikit dan tidak menarik perhatian para pembuat malware,” ucapnya.
Sebagai contoh, menurut data intelijen Secunia, perusahaan pengamat keamanan aplikasi internet, saat ini Opera versi 9.x memiliki 22 laporan keamanan dan 50 peluang serangan. Sekitar 68 persen di antaranya sangat kritis.
Selengkapnya >>>
-
WikiLeaks membuat gempar lewat keberaniannya membocorkan puluhan ribu dokumen rahasia milik Amerika Serikat. Bukan belakangan ini saja, situ...
-
Seorang karyawan Google dikecam karena secara sengaja merilis kode program yang bisa mengeksploitasi celah keamanan yang dimiliki platform W...
-
Isu-isu keamanan pada tahun 2010 dunia maya tampaknya masih terjadi dengan berbagai metode yang lebih halus dan canggih. Pengembangan penget...
-
Komputer adalah salah satu media untuk menjelajahi dunia maya. Dalam komputer adalah beberapa informasi yang bisa kita pelajari, terutama me...
-
Hacker kembali membidik sejumlah situs yang menggunakan platform WordPress. Serangan kali ini mempengaruhi website yang disimpan di berbagai...
-
Dari jajak pendapat yang dilakukan kepada 563 perusahaan di Amerika, 73% mengaku sistemnya pernah di-hacked. Sedangkan 18% lainnya menyataka...
