Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan

Berbagai Bocoran WikiLeaks yang Bikin Heboh

Align Center

WikiLeaks membuat gempar lewat keberaniannya membocorkan puluhan ribu dokumen rahasia milik Amerika Serikat. Bukan belakangan ini saja, situs non-profit itu sudah menjalankan misinya sejak beberapa tahun lalu.

Seperti dikutip dari laman Telegraph, berikut adalah sejumlah dokumen rahasia yang pernah dibocorkan ke laman publik yang dirintis jurnalis asal Australia Julian Assange.

1. Serangan Helikopter Apache di Irak
Sebuah rekaman video memperlihatkan perilaku sadis tentara Amerika Serikat di Irak. Dari atas helikopter Apache milik angkatan perang negara adidaya itu, para tentara menembak mati 15 orang, termasuk dua wartawan Reuters.

Gambar yang terekam lewat kamera di senjata helikopter itu dirilis laman WikiLeaks. Dari rekaman itu terdengar suara tawa tentara sambil mengatakan, "Mati kau!" Lalu terdengar pula, "Rekam, simpan gambar, simpan gambar."

Militer AS telah menolak memberi sanksi kepada tentaranya. Mereka berdalih mereka yang tertembak adalah para pemberontak dan wartawan yang nekat memasuki kawasan yang akan digempur tentara. Tentara juga berdalih bahwa sulit membedakan apakah wartawan itu membawa kamera atau senjata.

Salah satu kerabat wartawan Reuters yang tertembak menimpali, "Pertanyaan saya adalah bagaimana bisa pilot-pilot Amerika yang sangat terampil dengan teknologi informasi tidak bisa membedakan antara kamera dan rudal."

2. Email Sarah Palin
Menjelang Pemilihan Presiden Amerika, 2008, email pasangan kandidat Partai Republik John McCain, Sarah Palin, di-hack oleh kelompok dunia maya yang gencar berperang dengan Gereja Scientology. Dua email, daftar kontak, dan berbagai foto keluarga yang diposting ke WikiLeaks.

Dari WikiLeaks juga terungkap bahwa Palin telah menggunakan akun pribadi untuk mengurus kerja pemerintahannya. Palin diduga melakukannya untuk menghindari undang-undang yang berhak merekam aktivitas akun publik milik pejabat.

Dalam kampanyenya, McCain menganggap itu sebagai sebuah serangan mengejutkan terhadap privasi gubernur dan pelanggaran hukum.

3. Kitab Suci Gereja Scientology
Pada tahun 2008, WikiLeaks menerbitkan kompilasi 'kitab suci' Gereja Scientology. Termasuk di dalamnya sejumlah ajaran dan kegiatan gereja kontroversial itu. Pengacara Gereja Scientology meminta Wikileaks menarik publikasi itu. Namun, pengelola situs itu menolaknya.

4. Email Unit Penelitian Iklim
WikiLeaks menampilkan lebih 1.000 email yang dikirim dalam kurun 10 tahun oleh para staf di University of East Anglia's Climate Research Unit (RCU). Email ini menunjukkan bagaimana sejumlah ilmuwan melakukan rekayasa untuk memperkuat argumen bahwa pemanasan global nyata terjadi akibat ulah manusia.

Terkuak di WikiLeaks, seorang ilmuwan menulis di emailnya, "Saya baru saja membuat trik untuk menyelesaikan Mike's Nature (salah satu jurnal ilmiah), untuk menyembunyikan penurunannya."

Bocornya email-email semacam itu jelas membuat berang banyak pihak, terutama mereka yang menjunjung tinggi karya ilmiah. Itu dianggap sebagai skandal ilmiah terburuk. Pimpinan RCU, Profesor Phil Jones, akhirnya memutuskan mundur dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban.

5. Data Pager Serangan 11 September
November tahun lalu, WikiLeaks mempublikasikan lebih 500 ribu pesan pager yang terkirim di wilayah Amerika Serikat pada hari serangan 11 September. Mulai dari pesan yang dikirim pejabat pemerintah, hingga orang biasa. Wikileaks mengatakan, publikasi pesan-pesan itu untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang apa yang terjadi pada hari itu.

6. Daftar Hitam Internet di Australia
Tahun lalu, ketika pemerintah Australia merancang aturan agar pengguna internet tidak bisa melihat situs yang dianggap tidak cocok menurut pemerintah setempat, WikiLeaks membocorkan daftar situsnya. Ternyata bukan situs porno. Beberapa yang termasuk daftar tersebut adalah video-video YouTube, materi Wikipedia, situs agama pinggiran, bahkan situs agen perjalanan.

7. Standar Operasi Penjara Guantanamo
Pada 3 Desember 2007 silam, WikiLeaks menampilkan pedoman “Standar Prosedur Operasi Camp Delta”, salah satu blok sel di Guantanamo. Pedoman ini mengisyaratkan adanya kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di penjara tersebut. Panduan itu menyebutkan tahanan tidak bisa mendapat akses ke Palang Merah sampai lebih dari empat pekan.

8. Dokumen Cegah Data Bocor ke WikiLeaks
Tahun lalu, militer Inggris mengeluarkan panduan untuk mencegah bocornya dokumen-dokumen resmi mereka ke WikiLeaks. Dalam dokumen tersebut wartawan dianggap sebagai ancaman keamanan. Beberapa pihak yang dianggap bisa membocorkan informasi rahasia adalah intelijen asing, penjahat, kelompok teroris, dan staf yang tidak puas.

Sebuah dokumen milik Pentagon yang juga bocor juga menyebutkan WikiLeaks sebagai ancaman bagi keamanan nasional.
Selengkapnya >>>

Facebook Mesin Spionase AS

Pendiri situs pembocor rahasia WikiLeaks, Julian Assange, ternyata tak mempercayai jejaring sosial. Dia bahkan mengatakan bahwa Facebook dan Twitter bukan alat yang bisa berguna untuk melangsungkan 'revolusi politik'.



Seperti dilansir situs Silicon Alley Insider, dalam sebuah wawancaranya dengan situs RT, Assange tegas-tegas mengatakan Facebook adalah "mesin mata-mata menakutkan yang pernah ditemukan".

"Facebook adalah database tentang orang yang paling komprehensif, lengkap dengan rekan-rekan mereka, nama-nama mereka, lokasi-lokasi mereka, serta komunikasi terhadap masing-masing mereka," ujar Assange.

Semuanya, Assange menambahkan, bisa diakses oleh agen intelijen AS. Sebab, kata Assange lagi, Facebook, Google, Yahoo, semua organisasi papan atas itu, membuat situs mereka dengan antarmuka yang bisa digunakan oleh intelijen AS.

"Sekarang, apakah berarti Facebook memang dijalankan oleh intelijen AS? Tidak, tidak seperti itu, Tapi sederhananya, intelijen AS mampu melakukan tekanan politik maupun hukum kepada mereka," kata Assange.

Jadi, setiap kali kita menambahkan seseorang ke dalam daftar teman, kata Assange, kita mempermudah pekerjaan intelijen AS dalam membangun database yang lengkap, dengan gratis.

"Sangat mahal untuk mereka (intelijen AS) untuk merekam data setiap orang satu per satu, jadi mereka membuat agar proses ini dilakukan secara otomatis.
Selengkapnya >>>

Hacker Jual Murah Situs Pemerintah AS

Ternyata, di kalangan para peretas (hacker), situs-situs pemerintahan AS dihargai begitu murah. Menurut laporan terbaru dari firma keamanan komputer Imperva, kontrol terhadap situs-situs pemerintahan AS diperjualbelikan mulai dari harga US$33-US$499 (Rp 300 ribu sampai Rp 4,5 juta).



Seperti dikutip dari situs ComputerWorld, pada sebuah forum 'bawah tanah' yang merupakan pasar gelap di kalangan hacker, Imperva menemukan adanya jual beli beberapa situs web pemerintah AS, termasuk situs milik kalangan militer.

Di antaranya adalah situs Pharmacoeconomic Center milik Departemen Pertahanan AS yang menganalisa penggunaan obat-obatan bagi militer, dan veteran AS. Lalu ada situs negara bagian Utah AS dan Michigan, situs pemerintahan Italia, maupun beberapa situs universitas di AS.

Tak hanya menjual situs pemerintah, para peretas juga mengobral beberapa informasi rahasia yang mereka curi dari berbagai situs hanya seharga US$20 (180 ribu) untuk 1000 informasi rahasia tadi.

Biasanya informasi ini diperlukan para spammer atau penipu online untuk melancarkan aksi-aksinya. Sejauh ini, Bar-Yosef mengatakan ada sekitar 16 situs pemerintahan dan 300 ribu data rahasia orang yang diperjualbelikan di forum itu.

Hacker Jual Murah Situs Pemerintah AS
Situs negara bagian, departemen pertahanan, dan militer AS dijual murah oleh para peretas.
SENIN, 24 JANUARI 2011, 12:24 WIB Indra Darmawan

Hacker menjual murah kontrol terhadap situs-situs pemerintahan AS (identityfraudnews.com)
BERITA TERKAIT
China, Surga Bagi Para Hacker
Intelijen AS Interogasi Hacker Wikileaks
Situs ITS Punya Celah
Hacker Pembobol 114.000 Data iPad Dicokok FBI
Hacker Penjebol Email Palin Dibui 20 Tahun

Ternyata, di kalangan para peretas (hacker), situs-situs pemerintahan AS dihargai begitu murah.
Menurut laporan terbaru dari firma keamanan komputer Imperva, kontrol terhadap situs-situs pemerintahan AS diperjualbelikan mulai dari harga US$33-US$499 (Rp 300 ribu sampai Rp 4,5 juta).
Seperti dikutip dari situs ComputerWorld, pada sebuah forum 'bawah tanah' yang merupakan pasar gelap di kalangan hacker, Imperva menemukan adanya jual beli beberapa situs web pemerintah AS, termasuk situs milik kalangan militer.
"Anda bisa membeli akses administrator situs-situs tersebut dengan mudah," ujar Noa Bar-Yosef, Senior Security Strategis Imperva. Padahal, semua itu adalah situs penting.
Di antaranya adalah situs Pharmacoeconomic Center milik Departemen Pertahanan AS yang menganalisa penggunaan obat-obatan bagi militer, dan veteran AS. Lalu ada situs negara bagian Utah AS dan Michigan, situs pemerintahan Italia, maupun beberapa situs universitas di AS.
Tak hanya menjual situs pemerintah, para peretas juga mengobral beberapa informasi rahasia yang mereka curi dari berbagai situs hanya seharga US$20 (180 ribu) untuk 1000 informasi rahasia tadi.
Biasanya informasi ini diperlukan para spammer atau penipu online untuk melancarkan aksi-aksinya. Sejauh ini, Bar-Yosef mengatakan ada sekitar 16 situs pemerintahan dan 300 ribu data rahasia orang yang diperjualbelikan di forum itu.

Bar-Yosef memperkirakan, hacker mampu mencuri data rahasia tersebut menggunakan serangan yang disebut SQL Injection. Biasanya laman web yang menyediakan boks pencarian atau form pengisian, bisa diserang, karena boks tersebut akan berhubungan langsung dengan database.

Menurutnya, tidak perlu keahlian teknis yang mendalam untuk melakukan hal itu. Bahkan hacker pemula yang biasa disebut dengan istilah 'script kiddies', bisa melakukan serangan jenis ini.

Namun, serangan SQL Injection bisa berakibat fatal. Misalnya pada kasus jebolnya sistem pembayaran milik perusahaan Heartland dan 7-Eleven oleh peretas bernama Albert Gonzalez.
Selengkapnya >>>

Trojan di Balik Pengecas Baterai Energizer

Sebuah trojan dilaporkan mengancam komputer pengguna yang menggunakan pengecas baterai USB Energizer Duo. Keberadaan trojan itu berhasil dideteksi berkat analisa dari perusahaan keamanan komputer Symantec.

Menurut Symantec, trojan telah aktif selama sekitar tiga tahun menginfeksi komputer-komputer Windows. Trojan itu dapat masuk ke komputer melalui software yang digunakan untuk pengecas baterai Energizer tersebut.
Trojan adalah program yang beroperasi secara sembunyi-sembunyi dalam sebuah komputer, dan memberikan celah kepada komputer lain untuk bisa mengakses komputer yang terkontaminasi secara remote.

Temuan trojan ini membuat Energizer untuk mengumumkan penghentian pemasaran produk pengecas baterai dan memindahkan situs yang menyediakan unduhan software bagi pengecas baterai. Energizer bahkan menghimbau kepada konsumen untuk meng-uninstal software versi Windows yang telah mereka unduh.

Energizer tidak menjelaskan bagaimana backdoor trojan bisa masuk ke dalam software. Namun, menurut US-CERT (badan keamanan komputer resmi AS), software installer untuk pengecas baterai Energizer Duo menempatkan file UsbCharger.dll pada direktori aplikasi dan file Arucer.dll pada direktori Windows system32.

Ketika software UsbCharger mengeksekusi, maka software memanfaatkan komponen UsbCharge.dll, UsbCharger.dll mengeksekusi Arucer.dll, dan mengkonfigurasi Arucer.dll untuk mengekskusi secara otomatis, saat Windows mulai dinyalakan.

Masalahnya, Arucer.dll adalah backdoor (pintu masuk) yang membolehkan sistem remote yang tak berwenang, mengakses ke ddalam komputer melalui TCP port 7777.
"Penyerang akan mampu mengendalikan sistem dari jarak jauh, termasuk kemampuan untuk mengumpulkan daftar direktori, mengirim dan menerima file, dan mengeksekusi program," kata US-CERT.

Untuk menangkal trojan ini, pengguna dapat masuk ke direktori Windows system32, kemudian menghapus Arucer.dll. Namun sistem perlu direstart sebelum file secara resmi dihapus. Cara lain, pengguna bisa mengenyahkan software UsbCharger secara keseluruhan.

Arucer.dll akan tetap tersimpan pada direktori system32, tapu mekanisme untuk mengeksekusi kode di DLL tidak akan ada lagi. Cara terakhir, adalah memblok akses [port] 7777/tcp agar koneksi luar ke backdoor bisa dihindari.
Selengkapnya >>>

Karyawan Google Sebar Exploit di MS Windows

Seorang karyawan Google dikecam karena secara sengaja merilis kode program yang bisa mengeksploitasi celah keamanan yang dimiliki platform Windows.

Tavis Ormandy, seorang karyawan Google, mendapat kecaman dari banyak orang, karena menyebarkan program yang berbahaya bagi komputer Windows XP dan Windows Server 2003.

Seperti dikutip dari The Register, lubang itu ditemukan pada browser Internet Explorer namun bisa berfungsi juga pada browser lainnya. Bahkan lubang ini bisa lebih cepat menginfeksi bila pengguna sedang menyalakan Windows Media Player.
Cacat ini ditemukan oleh Ormandy, pada Windows Help Centre. Lubang terletak pada Bantuan (Help) yang menggunakan daftar putih (white list) berisi laman-laman web yang diperbolehkan untuk diakses.

Masalahnya, dengan adanya white list itu, memungkinkan seseorang untuk menambahkan link-link URL yang bisa mengarahkan pengguna ke laman berbahaya, ke dalam daftar white list itu.

Langkah Ormandy merilis kode jahat yang bisa menginfeksi sistem Windows itu, ditempuh hanya lima hari setelah ia melaporkan celah keamanan itu kepada pihak Microsoft.

Umumnya, saat menerima laporan tentang adanya celah keamanan, Microsoft akan merespon dan menyiapkan tambalan terhadap lubang itu.
Belakangan Ormandy menganggap Microsoft tidak akan mengeluarkan tambalan, seperti yang diharapkan.

Oleh karenanya, kemudian ia sengaja mengedarkan kode software yang bisa memanfaatkan celah keamanan tersebut. Semuanya dengan tujuan agar Microsoft memperhatikan notifikasi darinya.

Namun, aksi Ormandy mendapat kecaman tajam karena ia adalah karyawan Google, yang merupakan rival utama Microsoft.
Selengkapnya >>>

Akun Zuckerberg Jebol, Keamanan FB Diperkuat

Kini terbukti jelas betapa lemahnya sistem keamanan jejaring sosial Facebook dari incaran orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Belum lama ini akun Facebook pendirinya Facebook sendiri, Mark Zuckerberg, berhasil dijebol oleh peretas (hacker). Hacker tersebut memposting sebuah pesan unik di status Zuckerberg.



"Biarkan hacking ini dimulai: bila Facebook butuh uang dan tak pergi ke bank, kenapa Facebook tak membiarkan penggunanya berinvestasi di Facebook secara sosial? Kenapa tidak mengubah Facebook menjadi sebuah 'bisnis sosial' seperti yang dilakukan oleh pemenang Nobel Muhammad Yunus? http://bit.ly/fs6rT3 Bagaimana pendapatmu? #hackercup2011"

Tim Facebook sendiri rada telat mengetahui adanya postingan ini, karena 'status palsu' Zuckerberg itu sempat mendapat jempol 'Like' dari 1.803 pengguna Facebook, dan bahkan dikomentari oleh sekitar 500 orang.

Belakangan, postingan tersebut dihilangkan, namun screenshotnya sudah keburu diabadikan oleh situs Techcrunch. Menurut situs Forbes, sepertinya komentar sang hacker ditujukan untuk 'memprotes' investasi Goldman Sachs pada Facebook baru-baru ini.

Sementara hashtag (tanda '#') 'hackercup' menurut situs Computerworld, mengacu pada sebuah kompetisi yang tengah berlangsung untuk menguji layanan Facebook.
Yang jelas, peristiwa ini merupakan penyusupan terhadap akun Facebook kedua di pekan ini, setelah sebelumnya akun Presiden Prancis Nicolas Sarkozy juga bobol.
Selengkapnya >>>

Virus Stuxnet Hantui Iran dan Indonesia

Worm trojan Stuxnet yang mengincar sistem kontrol industri, SCADA, ternyata paling banyak menyerang komputer di negara Iran.

Seperti dikutip dari situs BusinessWeek, berdasarkan data dari firma keamanan Symantec, hampir 60 persen dari sistem yang terinfeksi worm Stuxnet berada di Iran.

Sementara Indonesia dan India menjadi negara berikutnya yang menjadi tujuan serangan worm ini dengan prosentase komputer terinfeksi 18 persen dan 8 persen.

Stuxnet pertama kali ditemukan pada bulan lalu oleh sebuah perusahaan keamanan asal Belarusia bernama VirusBlokAda, dan menyerang software otomatisasi yang banyak digunakan di bidang industri (pabrik-pabrik), bernama SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition).

Worm ini menyerang melalui USB drive yang terinfeksi. Ia memanfaatkan celah keamanan di Windows dan sertifikat digital yang cukup ternama untuk menjebol data-data rahasia perusahaan dari sistem SCADA dan mengirimnya ke internet.

"Ini adalah bukti bahwa W32.Stuxnet dibuat dan didistribusikan untuk maksud pencurian dokumen infrastruktur kritikal di beberapa organisasi di negara tertentu," kata Vikram, Thakur, dari Symantec, pada blog resmi perusahaannya.

Kendati penyebaran worm ini tidak terlalu masif, tapi diperkirakan antara 15 ribu hingga 20 ribu komputer telah terinfeksi. Symantec berhasil mengarahkan server pusat worm ini ke komputernya, dan dalam tiga hari saja, sebanyak 14 ribu alamat IP berusaha untuk terhubung dengan server pusat worm ini.

Symantec mengaku tak begitu mengerti mengapa Iran, Indonesia, dan India menjadi negara yang paling banyak terimbas. Namun menurut Symantec, siapapun yang membuat worm ini memang mengincar perusahaan-perusahaan yang berada di wilayah tersebut.

Dari tanggal yang tertera pada digital signature yang dimunculkan oleh worm ini, kata Levy, malware ini telah ada sejak Januari lalu. Saat itu, Siemens didesak untuk menarik divisi usahanya di Iran oleh LSM pro-Israel bernama Stop the Bomb. Desakan terhadap Siemens muncul bersamaan dengan peringatan 65 tahun pembebasan kamp Auschwitz.

"Walaupun Iran adalah salah satu negara yang paling terinfeksi, mungkin juga hal itu disebabkan karena negara itu adalah tempat di mana mereka jarang memiliki antivirusnya saat ini," kata Elias Levy, Senior Technical Director, Symantec Security Response, kepada BusinessWeek.

Siemens telah memposting sebuah software gratis yang mampu memindai keberadaan worm ini, dan hingga kini telah diunduh lebih dari 1500 kali.
Selengkapnya >>>

Penipu Curi Uang Pemakai iTunes Lewat PayPal

Sejumlah pengguna melaporkan bahwa mereka dikenai tagihan sebesar ribuan dolar AS akibat penipuan. Tagihan tersebut dikenakan pada akun iTunes lewat PayPal.
Seorang juru bicara Apple mengungkapkan pada San Jose Mercury News bahwa perusahaannya menyadari akan adanya masalah tersebut.
“Di antara sejumlah perbaikan keamanan pada iTunes, kini pengguna perlu melakukan beberapa kali entri terhadap kode pengamanan kartu kredit,” kata juru bicara tersebut, seperti dikutip dari Apple Insider, 24 Agustus 2010.

Akan tetapi, kata juru bicara tersebut, jika kartu kredit atau password akun iTunes pengguna dicuri dan digunakan di iTunes, Apple menyarankan pengguna untuk menghubungi institusi keuangan terkait untuk memblokir kartu kredit. “Kami juga merekomendasikan pengguna untuk langsung mengganti password akun iTunes-nya,” ucapnya.

Pertengahan tahun ini, iTunes diserang oleh pengembang dan penipu akun. Sejumlah pengembang aplikasi memanfaatkan celah yang ada di sana untuk mendongkrak ranking penjualan mereka. Ketika itu, Apple menyebutkan, ada 400 akun yang dibajak dari sekitar 150 juta pengguna aktif iTunes.

Pekan ini, Apple juga mempertebal keamanan akun Apple ID mereka yang juga digunakan di iTunes. Kini pengguna harus melakukan verifikasi terhadap informasi akun mereka saat mereka login ke perangkat baru, dan password akun iTunes baru harus setidaknya memiliki 8 karakter yang memiliki kombinasi huruf kapital.
Selengkapnya >>>

Hacker Peras Selebriti Papan Atas

Dua hacker Jerman berhasil mengakses komputer milik lebih dari 50 artis pop terkemuka, termasuk Justin Timberlake dan Lady Gaga. Mereka berupaya mencuri lagu-lagu yang belum dirilis dan mengirimkan ancaman berbau pemerasan.

Pasangan hacker tersebut, menurut kepolisian Jerman, menggunakan program sederhana berupa trojan yang dapat menerobos masuk ke jaringan komputer pribadi. Mereka kemudian mencuri ratusan dokumen termasuk musik, kartu kredit, email dan foto.

Menurut pihak berwajib, dua hacker ini berusaha memeras Kesha, meski penyanyi papan atas AS berusia 24 tahun itu tidak memberikan uang yang diminta. Caranya, mereka mengancam akan menyebarkan foto artis tersebut yang sedang tak berbusana dan beradegan intim.

Bangga dengan keberhasilan yang diraih, kedua pelaku kemudian menyombongkan diri di forum dan menyatakan berhasil melakukan hacking terhadap selebritis papan atas.

“Pada dasarnya, kasus ini merupakan penerobosan dan publikasi ilegal serta memata-matai menggunakan Trojan,” kata Rolf Haferkamp, jaksa penuntut, seperti dikutip dari Independent, 3 Desember 2010. “Tidak ada yang spesial dari sisi metode yang digunakan. Hanya membutuhkan sedikit pengetahuan dan ketekunan untuk berhasil melakukan kriminal seperti ini,” ucapnya.

Tuduhan kejahatan ini terungkap setelah penggemar Kelly Clarkson mengabari penyanyi asal AS, seputar lagu-lagunya yang belum dirilis namun sudah tersedia di Internet. Ia kemudian menginformasikan pada polisi dan mendorong penyelidikan yang melibatkan FBI dan German Federal Police Service.

Meski dua hacker tersebut – satu berusia 17 tahun dari Duisburg dan seorang lagi berusia 23 tahun asal Wessel – belum dihukum, sejumlah laporan menyebutkan bahwa mereka telah mengakui perbuatannya pada polisi.

Sven Kilthau-Lander, Director of Public Relations di Jerman yang bertanggungjawab atas publikasi artis seperti Lady Gaga dan Rihanna menyebutkan, kejadian ini merupakan hal yang sangat menakutkan. “Kini tidak ada yang bisa merasa aman di manapun ia berada,” ucapnya.

Kilthau-Lander juga menyebutkan, akibat hacking tersebut, sejumlah penyanyi memajukan jadwal peluncuran album musik mereka.
Selengkapnya >>>

Video Hacker WikiLeaks tentang Perang Cyber

Setelah seorang remaja 16 tahun ditahan oleh polisi Belanda karena dituduh mendukung serangan terhadap situs MasterCard dan PayPal, tak lama kemudian situs kepolisian dan situs resmi Kejaksaan Belanda dilaporkan tumbang.



Seperti dikabarkan oleh kantor berita China Xinhua yang mengutip laporan media Belanda, situs kepolisian Belanda lumpuh karena serangan yang dilancarkan para peretas. Seorang juru bicara kepolisian Belanda membenarkan serangan tersebut.

Sementara para jaksa penuntut pemerintah Belanda hingga kini juga masih menyeldiki masalah yang menimpa situs mereka. Media lokal Belanda mengatakan bahwa serangan tersebut adalah respon atas penangkapan remaja 16 tahun yang dicokok akibat menyerang situs Mastercard, Visa, dan PayPal.

Menurut CBC, media Belanda menyebut para aktivis hacker (hacktivist), yang menamakan diri sebagai Anonymous, adalah kelompok yang mengaku bertanggung jawab terhadap berbagai serangan terhadap situs-situs yang dianggap memusuhi situs pembocor dokumen rahasia WikiLeaks.

Melalui sebuah operasi yang mereka namakan Operation Payback, kelompok hacker ini memproklamirkan perang terhadap 'musuh-musuh' WikiLeaks. Kepada Russia Today, salah seorang perwakilan kelompok Anonymous angkat bicara.

Perwakilan hacker itu antara lain menegaskan bahwa mereka akan berjuang membersihkan nama WikiLeaks. Oleh Karenanya, mereka menyerang situs-situs yang membekukan akun WikiLeaks, seperti MasterCard, Visa, dan PayPal.

"Kami lakukan serangan ini karena perusahaan-perusahaan ini telah menghentikan pendanaan WikiLeaks, merampas dana dari WikiLeaks, walaupun belakangan PayPal bersedia mengembalikannya secara terpaksa," kata hacker itu kepada Russia Today.
Menurutnya, mereka berhasil melumpuhkan situs-situs itu dengan penyerangan Distributed Denial of Service (DDoS) yaitu menghujani situs dengan trafik agar situs tersebut sibuk dan tidak bisa diakses oleh pihak lain.

Dengan sebuah program sederhana, kata dia, seseorang yang bukan ahli internet bisa membantu kelompok Anonymous melancarkan serangan mereka. Kini Anonymous mengklaim memiliki lebih dari 9 ribu orang yang secara sukarela mendukung misi mereka.

Ia juga mengatakan tidak akan menyerang situs Amazon, yang sebelumnya menghentikan jasa hosting server bagi WikiLeaks. "Kami bukan kelompok yang berbahaya, kami beraksi berdasarkan upaya kami membela kebebasan berpendapat dan menyebarkan informasi, dan menyerang Amazon kami nilai terlalu berlebihan," katanya.

Yang tak kalah penting, hacker Anonymous itu mengatakan, serangan mereka terhadap situs-situs itu bukan hanya untuk kesenangan semata melainkan untuk kebebasan informasi.

"Kami melakukan serangan ini karena situs-situs ini melawan WikiLeaks. Perusahaan-perusahaan semacam ini melakukan permainan yang kejam terhadap publik, kami akan membuat mereka kalah. Mereka akan kalah di setiap waktu."
Selengkapnya >>>

Berbagai Bocoran WikiLeaks yang Bikin Heboh

WikiLeaks membuat gempar lewat keberaniannya membocorkan puluhan ribu dokumen rahasia milik Amerika Serikat. Bukan belakangan ini saja, situs non-profit itu sudah menjalankan misinya sejak beberapa tahun lalu.

Seperti dikutip dari laman Telegraph, berikut adalah sejumlah dokumen rahasia yang pernah dibocorkan ke laman publik yang dirintis jurnalis asal Australia Julian Assange.

1. Serangan Helikopter Apache di Irak
Sebuah rekaman video memperlihatkan perilaku sadis tentara Amerika Serikat di Irak. Dari atas helikopter Apache milik angkatan perang negara adidaya itu, para tentara menembak mati 15 orang, termasuk dua wartawan Reuters.

Gambar yang terekam lewat kamera di senjata helikopter itu dirilis laman WikiLeaks. Dari rekaman itu terdengar suara tawa tentara sambil mengatakan, "Mati kau!" Lalu terdengar pula, "Rekam, simpan gambar, simpan gambar."

Militer AS telah menolak memberi sanksi kepada tentaranya. Mereka berdalih mereka yang tertembak adalah para pemberontak dan wartawan yang nekat memasuki kawasan yang akan digempur tentara. Tentara juga berdalih bahwa sulit membedakan apakah wartawan itu membawa kamera atau senjata.

Salah satu kerabat wartawan Reuters yang tertembak menimpali, "Pertanyaan saya adalah bagaimana bisa pilot-pilot Amerika yang sangat terampil dengan teknologi informasi tidak bisa membedakan antara kamera dan rudal."

2. Email Sarah Palin
Menjelang Pemilihan Presiden Amerika, 2008, email pasangan kandidat Partai Republik John McCain, Sarah Palin, di-hack oleh kelompok dunia maya yang gencar berperang dengan Gereja Scientology. Dua email, daftar kontak, dan berbagai foto keluarga yang diposting ke WikiLeaks.

Dari WikiLeaks juga terungkap bahwa Palin telah menggunakan akun pribadi untuk mengurus kerja pemerintahannya. Palin diduga melakukannya untuk menghindari undang-undang yang berhak merekam aktivitas akun publik milik pejabat.

Dalam kampanyenya, McCain menganggap itu sebagai sebuah serangan mengejutkan terhadap privasi gubernur dan pelanggaran hukum.

3. Kitab Suci Gereja Scientology
Pada tahun 2008, WikiLeaks menerbitkan kompilasi 'kitab suci' Gereja Scientology. Termasuk di dalamnya sejumlah ajaran dan kegiatan gereja kontroversial itu. Pengacara Gereja Scientology meminta Wikileaks menarik publikasi itu. Namun, pengelola situs itu menolaknya.

4. Email Unit Penelitian Iklim
WikiLeaks menampilkan lebih 1.000 email yang dikirim dalam kurun 10 tahun oleh para staf di University of East Anglia's Climate Research Unit (RCU). Email ini menunjukkan bagaimana sejumlah ilmuwan melakukan rekayasa untuk memperkuat argumen bahwa pemanasan global nyata terjadi akibat ulah manusia.

Terkuak di WikiLeaks, seorang ilmuwan menulis di emailnya, "Saya baru saja membuat trik untuk menyelesaikan Mike's Nature (salah satu jurnal ilmiah), untuk menyembunyikan penurunannya."

Bocornya email-email semacam itu jelas membuat berang banyak pihak, terutama mereka yang menjunjung tinggi karya ilmiah. Itu dianggap sebagai skandal ilmiah terburuk. Pimpinan RCU, Profesor Phil Jones, akhirnya memutuskan mundur dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban.

5. Data Pager Serangan 11 September
November tahun lalu, WikiLeaks mempublikasikan lebih 500 ribu pesan pager yang terkirim di wilayah Amerika Serikat pada hari serangan 11 September. Mulai dari pesan yang dikirim pejabat pemerintah, hingga orang biasa. Wikileaks mengatakan, publikasi pesan-pesan itu untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang apa yang terjadi pada hari itu.

6. Daftar Hitam Internet di Australia
Tahun lalu, ketika pemerintah Australia merancang aturan agar pengguna internet tidak bisa melihat situs yang dianggap tidak cocok menurut pemerintah setempat, WikiLeaks membocorkan daftar situsnya. Ternyata bukan situs porno. Beberapa yang termasuk daftar tersebut adalah video-video YouTube, materi Wikipedia, situs agama pinggiran, bahkan situs agen perjalanan.

7. Standar Operasi Penjara Guantanamo
Pada 3 Desember 2007 silam, WikiLeaks menampilkan pedoman “Standar Prosedur Operasi Camp Delta”, salah satu blok sel di Guantanamo. Pedoman ini mengisyaratkan adanya kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di penjara tersebut. Panduan itu menyebutkan tahanan tidak bisa mendapat akses ke Palang Merah sampai lebih dari empat pekan.

8. Dokumen Cegah Data Bocor ke WikiLeaks
Tahun lalu, militer Inggris mengeluarkan panduan untuk mencegah bocornya dokumen-dokumen resmi mereka ke WikiLeaks. Dalam dokumen tersebut wartawan dianggap sebagai ancaman keamanan. Beberapa pihak yang dianggap bisa membocorkan informasi rahasia adalah intelijen asing, penjahat, kelompok teroris, dan staf yang tidak puas.

Sebuah dokumen milik Pentagon yang juga bocor juga menyebutkan WikiLeaks sebagai ancaman bagi keamanan nasional.
Selengkapnya >>>

Ikut Serang Paypal, Remaja Ditahan Polisi

Seorang anak remaja berusia 16 tahun asal Belanda ditangkap oleh yang berwajib dengan tuduhan penyerangan terhadap situs-situs MasterCard dan PayPal.

Anak tersebut dianggap telah melakukan penyerangan terhadap situs-situs tadi dengan melakukan serangan Distributed Denial of Service (DDoS).

Serangan itu sendiri dilakukan atas motif dukungan anak tersebut kepada WikiLeaks, dan pendirinya Julian Assange, yang belum ini ditangkap di Inggris.Remaja yang namanya tidak disebutkan itu dicokok dan kemudian diinterogasi tim kriminal teknologi tinggi kepolisian nasional Belanda. Ia mengakui perbuatannya.

Seperti dikutip dari situs firma keamanan komputer Sophos, komputer milik remaja nahas ini telah disita oleh polisi rencananya, pengadilan Rotterdam di Belanda akan mengadili remaja ini pada Jumat mendatang.

Sebelumnya, dua stasiun TV Belanda melaporkan bahwa polisi Belanda juga sempat menyambangi kantor LeaseWeb dan EvoSwitch dua perusahaan yang diyakini menyediakan layanan internet kepada kelompok hacker Anonymous.

Kelompok Anonymous adalah kelompok peretas yang belum lama ini memproklamirkan operasi penyerangan terhadap 'musuh-musuh' WikiLeaks dengan nama nama Payback Operation.

Operasi penyerangan yang dilancarkan para hacker memang sempat melumpuhkan situs-situs MasterCard, VISA, PayPal. Tak hanya itu, operasi ini juga telah melumpuhkan beberapa situs seperti Swiss Bank Post Finance, situs milik penuntut Julian Assange di Swedia (www.aklagare.se), penyedia domain EveryDNS, pengacara dua wanita yang mengklaim kejahatan seksual Assange (advbyra.se) serta situs tokoh-tokoh yang secara terbuka memusuhi WikiLeaks seperti Sarah Palin dan Senator Lieberman.

Menurut firma keamanan Pandalabs Security, operasi ini telah melumpuhkan situs-situs tadi selama lebih dari 94 jam downtime.
Selengkapnya >>>

"Dokumen Pentagon Dicuri Dengan CD Lady"

Ratusan ribu dokumen rahasia Amerika Serikat yang terdiri dari catatan diplomatik dan rahasia perang hilang. Siapa sangka bahwa semua dokumen ini dicuri dengan mudah.

Dokumen itu dicuri oleh seorang tentara berpangkat rendah dengan hanya menggunakan CD dan memory stick.

Bradley Manning, 23, seorang analis intelijen AS, saat ini tengah menjalani pengadilan di Amerika Serikat atas pencurian ratusan ribu dokumen yang dilakukannya dan menyebarkannya ke WikiLeaks.

Di antara dokumen yang dicurinya adalah rekaman video insiden di Afghanistan dan Irak dimana kru helikopter Apache menembakkan roket ke arah segerombolan orang, salah satu diantaranya adalah wartawan Reuters.

Jika terbukti bersalah, Manning dapat dikenakan hukuman penjara hingga 52 tahun lamanya.

Lalu bagaimana cara Manning memperoleh informasi rahasia tersebut dan mengirimkannya tanpa diketahui siapapun?

Manning mengatakan bahwa hal itu sangat mudah sekali, sampai tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Dia menjelaskan bahwa dia telah menyalin dokumen-dokumen rahasia tersebut dari sebuah komputer di sebuah markas AS di Irak tempatnya bertugas.

Pemuda yang mengaku kesepian di tempatnya bertugas ini mengatakan bahwa dia hanya menggunakan CD berlabel Lady Gaga, menghapus isinya dan menyalin semua dokumen yang telah di perkecil ukurannya ke dalam CD tersebut. Lalu dia menyalinnya lagi ke sebuah memory stick dan mengirimkannya ke laman WikiLeaks.

"Tidak ada yang mencurigainya. Saya pura-pura mendengarkan dan berlagak menyanyikan lagu Lady Gaga ‘Telephone’ ketika saya memasuki data bocor terbesar dalam sejarah. Hillary Clinton dan ribuan diplomat di seluruh dunia akan terkena serangan jantung ketika mereka mendapati pada pagi hari rahasia kebijakan internasionalnya tersedia untuk publik," ujar Manning seperti dilansir dari laman The Guardian, Rabu 1 Desember 2010.

Dia mengatakan bahwa dia memiliki akses ke dokumen rahasia 14 jam sehari dan tujuh hari seminggu selama delapan bulan. Belakangan, diketahui Manning mencuri semua dokumen tersebut dari Siprnet (secret internet protocol router network distribution), yaitu jejaring database yang dibuat untuk menghubungkan personil militer AS di seluruh dunia.

Pengakuan Manning diperoleh dari percakapan onlinenya dengan seorang mantan hacker, Adrian Lamo, pada 21 Mei tahun ini. Transkrip percakapan itu oleh Lamo kemudian diunggah ke laman wired.com dan diberikan kepada FBI.

“Setiap kali ada pos AS di suatu negara, pasti ada skandal diplomatik yang akan terungkap. Anarki tingkat dunia dalam format CSV, sangat indah sekaligus menakutkan,” ujarnya.

“Saya ingin agar semua orang memperoleh kebenaran. Informasi harusnya gratis, karena termasuk dalam ranah publik, ” lanjutnya lagi.

Kebocoran ini menunjukkan bahwa Pentagon gagal dalam melindungi informasi sensitif yang dimilikinya, sepertti mendeteksi dan mencegah pencurian data dan mengunduh data dari database militer.

“Kenyataannya, seseorang dapat duduk dan mengakses data dan menyalinnya ke dalam memory stick, ini adalah praktek keamanan yang sangat buruk,” ujar Steven Aftergood, intelijen di American Federation of Scientist.
Selengkapnya >>>

Hacker 'WikiLeaks' Lumpuhkan Server PayPal

Server situs layanan pembayaran online PayPal sempat lumpuh dan tidak bisa diakses setidaknya selama 1 jam 20 menit. Menurut situs TheNextWeb, kemungkinan besar ini disebabkan oleh serangan para peretas pendukung situs WikiLeaks.





Diperkirakan, tumbangnya server PayPal disebabkan oleh serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang dilancarkan oleh para pendukung WikiLeaks. Tumbangnya layanan PayPal menyusul situs MasterCard dan VISA yang sebelumnya juga sempat dilumpuhkan para peretas.

Sejak beberapa hari lalu, para pendukung WikiLeaks memang telah mengincar PayPal karena penyedia layanan pembayaran online milik eBay itu membekukan secara permanen akun WikiLeaks beserta rekening sebesar 60 ribu Euro karena menganggap situs tersebut telah melanggar syarat penggunaan PayPal.

Belakangan, tekanan dari para pendukung WikiLeaks membuat PayPal berpikir ulang untuk membekukan sisa uang di rekening PayPal. Lewat postingan di blognya, PayPal berniat untuk melepas sisa rekening WikiLeaks di PayPal.

"Akun WikiLeaks akan tetap dilarang, namun PayPal akan melepas semua sisa dana yang ada di rekening WikiLeaks," kata PayPal.

Menurut PayPal di blognya, keputusan mereka memang selalu akan dikaitkan dengan isu politik, hukum, dan debat tentang kebebasan berpendapat.

"Namun, tidak ada satupun dari faktor-faktor tadi mempengaruhi keputusan kami. Pertimbangan kami hanya apakah WikiLeaks berlawanan dengan peraturan dan kebijakan penggunaan kami," kata PayPal.

Tapi, kepada situs DailyMail, seorang pejabat PayPal mengakui bahwa salah satu sebab situsnya menghentikan layanannya kepada WikileLeaks adalah karena adanya tekanan dari Departemen Luar Negeri AS.

"Deplu mengatakan kepada kami bahwa mereka melakukan berbagai aktivitas ilegal activities. Itu dilakukan langsung," kata Vice President PayPal Osama Bedier. Menurutnya, Deplu menyatakan WikiLeaks ilegal pada 27 November lalu.

Sementara, para hacker pendukung WikiLeaks yang menamakan diri mereka Anonymous, secara terbuka mengakui serangan DDoS yang mereka lancarkan kepada beberapa 'musuh' WikiLeaks.

"Selama ini kami tidak banyak berafiliasi dengan WikiLeaks, namun kini kami berjuang untuk tujuan yang sama. Kami menginginkan transparansi dan melawan penyensoran. Oleh karenanya kami ingin meningkatkan kesadaran kepada semua orang untuk menyerang pihak-pihak yang melawan kebebasan dan demokrasi," kata Anonymous di situs mereka.

"Kami akan menemukan dan menyerang siapapun yang berdiri menentang WikiLeaks dan kami akan mendukung WikiLeaks untuk memenuhi apapun yang mereka butuhkan."
Selengkapnya >>>

PBB Prihatin Perang Internet WikiLeaks

Perang internet (cyber war) yang gencar akhir-akhir ini menyangkut sepak terjang WikiLeaks telah membuat prihatin suatu lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).Bagi PBB, isu WikiLeaks ini seharusnya diselesaikan melalui jalur hukum, bukan melalui perang internet yang merugikan banyak pihak.

Demikian ungkap Komisaris Tinggi PBB untuk urusan Hak Asasi Manusia (HAM) Navi Pillay di Jenewa, Swiss, Kamis 9 Desember 2010 waktu setempat. "Inilah apa yang disebut media sebagai perang internet. Situasi saat ini benar-benar menakjubkan," kata Pillay seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Dia prihatin bahwa situasi yang menyangkut WikiLeaks telah menyebabkan baku serang antarperetas di dunia maya dan telah melibatkan sejumlah perusahaan terkemuka dalam layanan maupun aktivitas mereka di internet.

"Saya prihatin atas laporan mengenai tekanan pada sejumlah perusahaan swasta - di antaranya bank, perusahaan kartu kredit, dan penyedia layanan internet yang menutup aliran kredit bagi sumbangan untuk WikiLeaks sekaligus menghentikan layanan sistem [hosting] bagi laman itu," kata Pillay dalam jumpa pers.

Sejumlah perusahaan yang berbasis di AS memutuskan kerjasama dengan WikiLeaks. Mereka di antaranya Mastercard, Visa, Amazon.com, PayPal, dan Every DNS. Kebijakan mereka itu menghantam operasional WikiLeaks, yang telah membuat resah AS dan banyak negara karena mengungkap informasi sensitif sejak 28 November 2010. Bagi pemerintah AS, sepak terjang WikiLeaks itu dianggap sebagai pencurian data dan mempertaruhkan kepentingan banyak pihak.

Sebagai balasan, para peretas (hacker) yang menjadi simpatisan WikiLeaks dan pendirinya, Julian Assange, melakukan serangan balasan dengan mensabotase laman milik perusahaan-perusahaan itu.

Pillay mengatakan bahwa masalah WikiLeaks harus diselesaikan secara hukum, bukan dengan pemutusan kontrak secara sepihak maupun sabotase. "Bila WikiLeaks diketahui melakukan perbuatan yang ilegal, maka ini harus ditangani lewat sistem hukum, bukan melalui tekanan dan intimidasi yang melibatkan pihak-pihak ketiga," kata Pillay.
Selengkapnya >>>

Pendukung WikiLeaks Kobarkan Perang Cyber

Tekanan yang terus menerus dialami oleh WikiLeaks dan pendirinya, memicu aksi balas dendam yang dilakukan oleh para hacktivist (aktivis hacker).Kelompok hacker pendukung pendiri WikiLeaks Julian Assange melakukan serangkaian serangan cyber terhadap beberapa pihak yang dianggap mengambil sikap bermusuhan.


Situs-situs web yang dianggap memusuhi WikiLeaks, seperti PayPal, Swiss Bank PostFinance (postfinance.ch), situs resmi penuntut umum Assange di Swedia (aklagare.se), dan situs senator Lieberman (lieberman.senate.gov) yang secara vokal menentang Assange, berhasil mereka lumpuhkan melalui inisiatif yang mereka namakan: Operation Payback.

"Tujuan Operation Payback bukan sekadar hacking untuk mencari keuntungan. Pada kasus ini, tujuan hacker adalah melumpuhkan layanan dan memprotes. Yang kami lihat di sini adalah serangan yang sangat fokus, untuk menjatuhkan server-server karena mengganggap ada ketidakadilan," ujar Noa Bar Yossef, pakar keamanan senior dari firma keamanan komputer Imperva, kepada PCWorld.

Pakar keamanan dari PandaBlogs Sean-Paul Correl, mengungkapkan akibat serangan Operation Payback, situs PayPalBlog.com sempat down selama 8 jam 15 menit. Serangan memakai metode Distributed Denial of Services (DDoS/ DoS).

Tidak seperti serangan DoS pada umumnya yang biasanya membombardir situs sasaran dengan ribuan atau bahkan ratusan ribu spam dari komputer-komputer PC yang telah ditulari dengan malware, menurut Bar Yossef, Operation Payback merekrut orang-orang dari dalam jaringan mereka untuk mengunduh kode program tertentu yang merupakan malware DoS itu sendiri.

Maka, tidak ada mesin komputer yang menjadi korban (atau disebut sebagai botnet) karena pemiliknya terlibat secara sadar menjadikan komputer mereka sebagai botnet dan alat untuk membungkam pihak-pihak yang memusuhi WikiLeaks.

Seperti diketahui, sebelumnya PayPal membekukan rekening WikiLeaks sebesar 60 ribu Euro karena menganggap situs pembocor rahasia ini telah menyalahi kebijakan syarat penggunaan.

Langkah yang sama, kemudian dilakukan oleh Swiss Bank Post Finance (layanan keuangan kantor pos Swiss), yang membekukan rekening dan aset WikiLeaks sebesar 31 ribu Euro. Akibat aksi pembekuan itu, setidaknya Assange dan WikiLeaks kehilangan sekitar 100 ribu Euro donasi dari orang-orang yang bersimpati.

Mastercard dan VISA juga telah menutup layanan penyaluran donasi terhadap WikiLeaks. Padahal, di saat yang sama, menurut editor teknologi situs Guardian Charles Arthur baik Mastercard dan VISA, sama sekali tidak membekukan layanan donasi terhadap gerakan berbau rasis seperti Ku Klux Klan.

"Drama WikiLeaks tentu akan menjadi semacam perang cyber. dan perang semacam ini secara virtual tak bisa dimenangkan. Internet begitu dinamis. Tak mungkin menutup sebuah organisasi seperti WikiLeaks yang memiliki dukungan begitu populer. Hosting dan opsi pendanaannya secara virtual tak mungkin dihentikan," kata pendiri Antiwar.com Eric Garris.
Selengkapnya >>>

Pendiri Wikileaks Dibekuk, Hacker Membalas

Setelah Julian Assange ditangkap polisi Inggris, para hacker pendukung pendiri situs Wikileaks, menjebol sejumlah situs yang selama ini dikenal sebagai memusuhi Julian. Pembobolan atas sejumlah situs itu dilakukan hari ini, Rabu 8 Desember 2010.

Para hacker itu menilai bahwa selama ini, sejumlah situs itu aktif berkampanye anti Julian dan secara terbukan mendukung penangkapannya. Julian ditangkap polisi Inggris atas permintaan pengadilan Swedia, karena kasus pemerkosaan, kasus yang sungguh jauh dari urusan Wikileaks.

Menurut kantor berita CNN, Assange ditangkap Selasa, 7 Desember 2010, pada pukul 9.30 pagi waktu setempat. Kini ia ditahan di kantor polisi London dan menghadiri pengadilan di kota Westminster hari itu juga.

Pria 39 tahun ini menghadapi serangkaian pertanyaan menyangkut tuduhan pemerkosaan, pelecehan seks, dan pemaksaan ilegal, yang diduga dilakukannya di Swedia. Pemerintah Swedia menyebutkan, penangkapan ini tidak ada sangkut pautnya dengan aktivitas Assange di WikiLeaks.

Meski demikian, kuasa hukum Assange, Mark Stephens menyatakan bahwa tuduhan perkosaan atas Assange adalah sebuah permainan politik. Pasalnya, beberapa bulan terakhir, kliennya itu mendapat sorotan dunia karena membocorkan informasi sensitif berkategori rahasia milik pemerintah AS melalui situsnya.

Dugaan akal-akalan tuduhan itu juga diungkapkan Christine Assange, seorang pengelola bisnis pertunjukan boneka asal Queensland, Australia yang tak lain adalah ibunda Julian.

Christine mengaku tidak percaya atas semua yang dituduhkan pada anaknya. “Banyak hal yang ditulis mengenai saya dan Julian tidak benar,” ucap Christine.

Menurut Christine, mencari kebenaran adalah sifat Julian sejak kecil dan WikiLeaks adalah salah satu sarana untuk itu. “Dia melakukan apa yang dianggapnya hal yang baik di dunia, yaitu melawan kaum jahat,” ucap Christine.

Meski Julian Assange sudah ditangkap Kepolisian Inggris, WikiLeaks tak lantas surut. Situs 'peniup peluit' itu akan terus membocorkan kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat yang bisa membuat malu negara adidaya itu.

“Tindakan terhadap pemimpin redaksi kami, Julian Assange tak akan mempengaruhi operasi. Kami akan merilis lebih banyak bocoran malam ini seperti biasa,” demikian disampaikan WikiLeaks dalam akun Twitternya, Selasa 7 Desember 2010 malam.

Sejauh ini, WikiLeaks telah membocorkan sejumlah dokumen yang melibatkan negeri Paman Sam dalam sejumlah isu sensitif, termasuk terkait Iran, Afghanistan, juga China.

Keputusan WikiLeaks untuk tetap maju melegakan di kalangan pendukung Assange -- yang khawatir penahanan pria 39 tahun itu akan mempengaruhi kerja organisasi.
Tekanan yang terus menerus dialami oleh WikiLeaks dan pendirinya, memicu aksi balas dendam yang dilakukan oleh para hacktivist (aktivis hacker). Kelompok hacker pendukung pendiri WikiLeaks itu melakukan serangkaian serangan cyber terhadap beberapa pihak yang dianggap mengambil sikap bermusuhan.

Situs-situs web yang dianggap memusuhi WikiLeaks, seperti PayPal, Swiss Bank PostFinance (postfinance.ch), situs resmi penuntut umum Assange di Swedia (aklagare.se), dan situs senator Lieberman (lieberman.senate.gov) yang secara vokal menentang Assange, berhasil mereka lumpuhkan melalui inisiatif yang mereka namakan: Operation Payback.

“Tujuan Operation Payback bukan sekadar hacking untuk mencari keuntungan. Pada kasus ini, tujuan hacker adalah melumpuhkan layanan dan memprotes. Yang kami lihat di sini adalah serangan yang sangat fokus, untuk menjatuhkan server-server karena mengganggap ada ketidakadilan,” kata Noa Bar Yossef, pakar keamanan senior dari firma keamanan komputer Imperva, kepada PCWorld.

Sean-Paul Correl, pakar keamanan dari PandaBlogs mengungkapkan, akibat serangan Operation Payback, situs PayPalBlog.com sempat down selama 8 jam 15 menit. Serangan memakai metode Distributed Denial of Services (DDoS/ DoS).

Tidak seperti serangan DoS pada umumnya yang biasanya membombardir situs sasaran dengan ribuan atau bahkan ratusan ribu spam dari komputer-komputer PC yang telah ditulari dengan malware, menurut Bar Yossef, Operation Payback merekrut orang-orang dari dalam jaringan mereka untuk mengunduh kode program tertentu yang merupakan malware DoS itu sendiri.

Dengan demikian, tidak ada mesin komputer yang menjadi korban (atau disebut sebagai botnet) karena pemiliknya terlibat secara sadar menjadikan komputer mereka sebagai botnet dan alat untuk membungkam pihak-pihak yang memusuhi WikiLeaks.

Saat ini WikiLeaks memang satu-satunya situs pembocor rahasia yang telah membuat Amerika Serikat dan beberapa negara lain kelimpungan. Namun dalam waktu dekat, akan ada situs pembocor rahasia lain yang akan menjadi saingan dan justru dibentuk oleh salah satu mantan juru bicara WikiLeaks.

Daniel Domscheit-Berg atau yang lebih dikenal dengan nama Daniel Schmitt, 32, adalah mantan staf senior WikiLeaks yang mengundurkan diri pada September lalu.

Dalam wawancara dengan majalah Jerman Der Spiegel yang dilansir dari laman Associated Press, Schmitt mengatakan akan membuat situs pembocor rahasia yang lebih baik daripada WikiLeaks.

Schmitt mengatakan, situs yang akan ia buat memiliki infrastruktur teknis yang memungkinkan seseorang mengirimkan dokumen rahasia yang diperolehnya, persis seperti WikiLeaks. Si pengirim juga akan tetap anonim untuk menjaga keamanannya.

Namun berbeda dengan WikiLeaks, situs ini memberikan pilihan kepada pengirim dokumen bagaimana dan kepada siapa informasi yang dia berikan akan dibocorkan.

Saat ini, Schmitt mengatakan, WikiLeaks memiliki masalah struktural yang parah. Banyak dokumen hanya bertumpuk dan staf lain tidak dibiarkan untuk menyentuhnya. Assange adalah satu-satunya orang yang mengatur semua penyebaran dokumen. Inilah alasan mengapa ia akan mendirikan situs yang lebih baik dibanding WikiLeaks.
Langkah Schmitt diikuti pula oleh Alexei Navalny, seorang jurnalis dan blogger populer asal Russia. Seperti halnya WikiLeaks, situs bernama Rospil.info yang ia buat memberikan kesempatan pada siapapun untuk mempublikasikan informasi yang berkaitan dengan praktek-praktek korupsi di Russia serta mendiskusikannya secara online.

Seperti dikutip dari kantor berita Rusia Ria Novosti, banyak pakar menyambut baik situs web semacam ini, karena bisa menjadi sumber informasi yang baik untuk memberantas praktek korupsi di Rusia.

Apalagi, selama ini, Navalny merupakan tokoh yang telah dikenal baik oleh publik. Navalny adalah pemilik saham minoritas beberapa perusahaan Rusia. Ia merupakan tokoh yang secara konsisten mengkampanyekan praktek bisnis yang lebih transparan di Rusia.

Rusia sendiri, selama ini dicap oleh organisasi Transparansi Internasional sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Menurut indeks persepsi korupsi 2009 yang dikeluarkan organisasi itu, Rusia menduduki peringkat 146 dari 180, atau berada di bawah negara Togo, Pakistan, dan Libya.

Sementara Indonesia pada tahun 2009 berada pada posisi 111. Tapi setidaknya, hingga saat ini belum ada situs pembocor dokumen rahasia seperti WikiLeaks atau Rospil.info di Indonesia. Berminat mendirikan?
Selengkapnya >>>

400 Juta Serangan Facebookers Spam

Sebagai 400 juta Facebooker telah menjadi target spammer. Dengan perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk mencuri password dan data lainnya, spammer siap untuk menginfeksi komputer agar pengguna. Informasi ini diungkapkan oleh peneliti dari McAfee, sebuah perusahaan spesialis keamanan komputer.

"Selama dua hari terakhir, jutaan pesan spam telah dikirim dan berhasil kita terdeteksi oleh pengguna yang menjalankan perangkat lunak keamanan kami," kata Dave Marcus, Direktur Security Research dan Komunikasi McAfee.

Marcus mengatakan, bahwa pesan spam tampaknya berasal dari agar resmi dengan alamat email yang sepertinya terlalu nyata tetapi sebenarnya palsu. "Contohnya seperti alamat pengirim email dari help@facebook.com," kata Marcus.

Pesan ini mengatakan bahwa password user Facebook yang sudah di-reset, dan pengguna harus men-download lampiran yang berisi password baru.

"Pesan dalam bahasa Inggris yang tampak sempurna dari sisi tata bahasa, tetapi ada sesuatu yang aneh pada salam penutup, yaitu Terima kasih, Anda dapat," kata Marcus.

Menurut Marcus, lampiran yang dikirimkan sebenarnya adalah sebuah program kuda Trojan yang akan menginfeksi komputer pengguna tanpa tanda-tanda terlihat. Menurut McAfee, spam juga akan berisi berbagai program malware lain termasuk pencurian password, program antivirus palsu, atau kode botnet.

Fitur, pengguna yang menerima email dari "dapat" tidak perlu membuka email.
Selengkapnya >>>

Hacker Cantik Diseret ke Pengadilan

Selama ini 'pekerjaan' hacker selalu identik dengan pria, namun bagi Kristina Svechinskaya, hacker pun bisa dilakukan oleh wanita cantik sekalipun. Bahkan 'prestasinya' pun tak kalah mentereng dari kaum adam.

Kristina Svechinskaya yang telah dijuluki sebagai "hacker wanita terpanas di dunia", baru-baru ini muncul di ruang sidang New York City untuk menghadapi tuduhan mencuri USD35 ribu bersama geng Eropa Timur yang terkenal dengak teknik ZBot cyber.

Dilansir melalui NY Times, Jumat (8/10/2010) Svechinskaya yang menjalani sidang tersebut menangis mendekati bangku mengenakan celana jins ketat dan Slinky, sepatu bot setinggi betis. Seksi? Tentu! Bahkan dia lebih mirip artis ketimbang seorang hacker.

"Kristina telah didakwa dengan satu hitungan persekongkolan untuk melakukan penipuan bank dan satu hitungan penggunaan paspor palsu." terang ahli keamanan dari Sophos Graham Cluley.

"Ya, jaksa mengklaim bahwa Svechinskaya direkrut untuk bergabung di organisasi tersebut yang berjumlah lebih dari dua lusin dan memiliki kontak dengan hacker komputer dan individu yang dapat memberikan paspor palsu," tambahnya.

Namun, tidak ada yang benar-benar mempunyai bukti, bahkan jika dia terbukti bersalah, bahwa dia seorang hacker.
Selengkapnya >>>

Hacker Pemula Lebih Suka Nge-Hack Facebook

Hampir seperempat atau sekira 23 persen dari mahasiswa telah berhasil menyusup ke sistem TI, dan kebanyakan situs yang menjadi favorit untuk dirusak adalah Facebook. Demikian penelitian yang dilakukan oleh Tufin Technologies.


Penelitian yang dilakukan oleh perusahaan keamanan ini juga mengungkapkan bahwa para mahasiswa tersebut yang berhasil menyusup ke sistem keamanan mencapai 40 persen.Sementara 84 persen siswa yang disurvei mengatakan mereka tahu hacking itu salah, hampir sepertiga atau 32 persen mengatakan juga 'cool' dan mengkhawatirkan, 28 persen mengatakan mereka merasa mudah untuk kembali ke sistem TI.

Dilansir melalui PC Advisor, satu dari lima atau 22 persen mengatakan mereka melakukan hacked karena masalah kemampuan, sementara 15 persen mengatakan mereka melakukannya untuk menghasilkan uang.

Sedangkan, akun Facebook adalah sistem yang paling populer untuk hack, dengan 37 persen dari mereka yang mengaku hacked mendapatkan akses tidak sah ke profil di jaringan sosial, diikuti oleh account email (26 persen) dan rekening belanja online (10 persen).

Lebih dari satu persen (ketiga 39) menggunakan PC sendiri untuk kegiatan hacking, sementara 32 persen mengatakan mereka menggunakan mesin milik universitas dan 23 persen digunakan PC di warung internet.
Selengkapnya >>>